Pages

Tuesday, January 26, 2016

Sandiwara Radio dan Film kita



Pada tahun 2007 saya pernah membaca sekilas tulisan di Kompas yang mengeluhkan betapa sinetron-sinetron kita tak ubahnya sandiwara radio. Bisa dimengerti keluhan demikian. Beberapa kali saya melihat adegan sinetron di mana orang membaca surat perlu dibantu dengan narasi isi surat, atau orang membatin yang dinarasikan panjang lebar. Rupanya ekspresi wajah yang mestinya bisa disampaikan berkat teknologi kamera adalah sesuatu yang berat dipelajari, apalagi dipraktekkan. Sama persis dengan sandiwara radio tentu tidak, karena dalam sandiwara radio ada narator (pembawa cerita) yang mendeskripsikan, misalnya, “Senja itu kabut mulai menyelimuti kaki Gunung Merapi, tampak beberapa orang berkereta memasuki kabut”, dan lain sebagainya. Meski sepakat dengan keluhan yang ditulis di Kompas itu, apa boleh buat yang dikritik adalah sinetron berjudul Mawar dengan bintang Chelsea Olivia. Jadi ya biarin saja haha.
sinetron rasa sandiwara radio
Chelsea Olivia

Sore tadi saat tiduran di kamar saya mendengar dialog dalam film Paddle Pop Magilika yang mengingatkan pada artikel kritikan terhadap sinetron rasa sandiwara radio itu. Lebih perah dari sinetron rasa sandiwara radio, Magilika ini dialognya terlalu ramai. Bahkan ketika sedang adegan kejar-kejaran pun karakter-karakternya tetap ngoceh tak perlu. Ilustrasi musik nyaris mubadzir. Saya memang tidak suka dengan film Paddle Pop karena banyak hal, yang paling mencolok adalah penjiplakan pola Lion King dalam cerita tentang kelahiran Paddle Pop dan pamannya yang jahat dan ingin merebut kekuasaan darinya. Juga pulau-pulau apung yang persis seperti di film Avatar. Yang jelas, hanya dengan mendengar dialognya saya tahu jalan cerita film itu.
Tak tahan, saya keluar kamar dan menyuruh anak-anak saya mengganti film itu dengan Cars 2. Bedanya sejauh timur dan barat! Kendati karakter Mater sang mobil derek bawelnya minta ampun, tetapi kadarnya pas. Tidak satu adegan dipenuhi racauan Mater, ada jeda, ada senyap. Dan tak lengkap pemahaman atas cerita tanpa melihat filmnya. Apalagi dibandingkan dengan Inside Out, Paddle Pop sungguh bukan tandingan. Tapi ya, anak-anak saya senang melihat Paddle Pop. Paling banter yang bisa saya lakukan adalah menyuruh mereka mengganti dengan film lain kalau saya ada di dekat mereka.
sinetron rasa sandiwara radio
Lighting McQueen dan Mater

Kalau sudah begitu saya pasti ingat obrolan zaman kuliah dulu betapa seriusnya Walt Disney bikin film. Kabarnya sekadar untuk menghasilkan gambar dansa Belle dan Beast yang sempurna animatornya sampai kursus menari waltz. Begitu pula animator Lion King yang menghabiskan waktu berhari-hari mengamati tingkah polah singa-singa di alam bebas untuk menghasilan animasi memikat Mufasa, Sarabi, Simba, Nala dan sekalian para singa lainnya. Akhirnya soal biaya memang. Persis seperti peneliti asing, ambil sebagai contoh Denys Lombard, yang menghabiskan waktu puluhan tahun meneliti berbagai objek di negeri kita. Duit juga pangkalnya. Dari mana Lombard punya tenaga, pikiran, dan waktu empat puluh tahun sekadar untuk menghasilkan buku Nusa Jawa: Silang Budaya?
Suatu ketika saya menyampaikan keluhan tentang minimnya fasilitas bagi peneliti mandiri di negeri kita ini kepada Sandra Niesen sang peneliti ulos Batak. Jawabnya, “Tidak sepenuhnya ketersediaan dana yang jadi soal, ada tekad atau tidak, itu soalnya.” Sandra peneliti hebat, rela keluar dari kenyamanan dunia akademis demi memuaskan panggilan jiwa meneliti ulos Batak dengan biaya sendiri. Tetapi, saya tak bisa sepenuhnya menerima pendapat dia. Dia tinggal di negeri makmur yang menghargai penulis itu sudah keuntungan tersendiri. Akan sulit bagi orang kita bepergian bolak-balik Kanada, Belanda dan Indonesia seperti Sandra. Walaupun soal kemauan itu Sandra benar adanya.
Ada kisah seorang mantan anggota Angkatan Laut Australia yang terobsesi meneliti dasar Laut Jawa sebagai akar kebudayaan kuno Indonesia. Selain mengumpulkan berbagai folklor tentang manusia yang berasal dari ikan, sehingga sebagian masyarakat di Kepulauan Riau ada yang tidak mau makan ikan, si eks tentara menjual kebun anggurnya di Australia untuk membeli kapal penelitian yang beroperasi di Laut Jawa. Hasilnya bagaimana saya tidak tahu, yang menarik bagi saya adalah totalitas dia mencurahkan segalanya demi obsesinya, yang menggelikan bagi banyak orang.  
Kembali ke kita, kita memang terbiasa dengan jargon Jer Basuki Mawa Bea tetapi lebih terbiasa lagi dengan ujaran “Kualitas Bintang Lima Harga Kaki Lima”` Ya mana ada?





Sumber gambar:
Chelsea Olivia
Cars 2


No comments:

Post a Comment