Pages

Tuesday, January 19, 2016

Opus Dei



religiusitas profesionalisle

“Umat Islam ini memang payah, mengabaikan ajaran agamanya. Justru orang-orang Opus Dei yang menerapkan ajaran-ajaran Islam. Mereka lebih Islami dari kita,” kata teman saya mengawali pembicaraan dengan gerutuan. Rupanya dia baru pulang dari Peru dan berkenalan dengan para anggota Opus Dei di sana. Dia melanjutkan dengan menceritakan bahwa orang-orang Opus Dei begitu menghayati ajaran bahwa setiap pekerjaan diperuntukkan bagi Tuhan sehingga mereka melakukannya dengan segenap kesungguhan. Tampaknya dia begitu bersemangat karena melihat saya terlihat takzim menyimak. Padahal tidak. Saya sedang berpikir, kalau saya jawab bahwa itu formulasi JosemarĂ­a Escrivá de Balaguer sang pendiri Opus Dei (Karya Tuhan) dan tidak ada perlunya dikait-kaitkan dengan Islam, tentu kami akan berdebat soal apakah kebaikan hanya ada dalam Islam, apakah bukan semua agama mengajarkan kebaikan yang sama? Saya sangat malas memasuki perbincangan begini, sebab saya memandang kebenaran religius seperti saya menyikapi sebuah artikel tentang keindahan reptil. Jelasnya begini, pernah ada artikel yang menguraikan bahwa reptil sejatinya amat indah apabila kita mengerti keindahannya. Saya membatin, “Boleh saja dia beranggapan begitu. Mungkin memang indah betul reptil itu, tetapi mohon maaf bagi saya iguana cuma tampak dungu. Ular? Bagi saya tidak ada binatang yang lebih menakutkan dan menjijikkan dari itu.” Semogalah si penulis artikel juga akan mafhum sekiranya nanti saya menulis artikel tentang kelinci, hewan yang paling saya cintai di muka bumi ini tapi gagal saya pelihara karena istri saya punya pandangan lain soal kelinci.
“Eh, kamu tahu tidak, kebanyakan imigran Jepang anggota Opus Dei di Lima membuka usaha binatu. Walaupun cuma berbisnis binatu, mereka menjalaninya bagaikan kita beribadah.” “Begitu ya?” tanggap saya setengah melamun. Kali ini lamunan saya melantur ke buku laris Dan Brown, The Da Vinci Code. Dalam buku itu Opus Dei tidak ada bagus-bagusnya. Bahkan Silas yang ditampilkan Dan Brown kemudian banyak dirujuk oleh para pembenci fundamentalis sebagai ikon fundamentalis berwatak setan. Paradoks Silas yang saleh secara pribadi tetapi jahat secara sosial banyak digarisbawahi tebal-tebal untuk mencemooh golongan fundamentalis. Adegan Silas di hadapan salib mengencangkan cilice (rantai kecil berduri yang diikatkan di paha) dan melecutkan ke punggungnya “disiplin” (cambuk kecil berserabut) seraya merapal doa Bapa Kami setelah melakukan pembunuhan seakan-akan hendak menunjukkan itulah sejatinya Opus Dei. Padahal tidak begitu, ada puluhan ribu anggota Opus Dei (dari 1,1 milyar umat Katolik, anggota Opus Dei tidak sampai sembilan puluh ribu orang) yang menjalani hidup sama normalnya dengan kita. Dan Brown juga berlebihan menggambarkan ritual berdoa dengan cilice dan disiplin itu, tidak seseram itu sebetulnya. Tetapi andaikan jauh lebih brutal dari gambaran Dan Brown, saya yakin masih kalah pamor dibanding ritual umat Syi’ah (di Iran dan Irak) pada hari As Syura. Dalam bentuk lain, ritual Opus Dei tidak ada apa-apanya dibanding proses inisiasi sebuah tarekat sufi yang mengharuskan murid tidak makan apa-apa selama 40 hari. Tampaknya, sering kali kita fasih menjelaskan apa yang bukan ketimbang apa yang sesungguhnya. Lagi pula, ritual keagamaan seajaib apa pun, tidak saya pusingkan sejauh tidak ditujukan untuk menggampari orang lain. Tiba-tiba saya tahu jawabnya mengapa Opus Dei menarik bagi saya. Ini kelompok mungil dalam Gereja Katolik yang sungguh-sungguh dalam beragama dan militan. Berhenti pada sisi fundamentalis saja, tampaknya saya menyukai fundamentalis dari sayap mana pun.
Saya jadi bersemangat meladeni obrolan teman saya, “Kamu tahu tidak, ada sebuah geraja yang lantai di atapnya digarap dengan amat indah oleh orang-orang Opus Dei?” “Bagaimana ceritanya?” tanya teman saya. “Oh, ini juga menunjukkan kesungguhan mereka melayani Tuhan lewat kerja-kerja sekuler. Ada yang terheran-heran, buat apa atap yang entah siapa yang kurang kerjaan naik dipenuhi ornamen memukau. Kata orang Opus Dei, mungkin tidak ada orang yang melihat, namun ini untuk Tuhan. Ada seorang pemilik binatu, mungkin kamu sempat berpapasan dengannya di Lima, yang konon ditanya pelanggan mengapa dia repot-repot membersihkan noda di lipatan kerah yang tak bakalan terlihat, jawabannya ya itu tadi, ‘Ini untuk Tuhan’.”
“Mestinya kita bisa melebihi mereka,” kata teman saya yang tampaknya geram betul dengan kondisi rekan-rekan seagamanya.
“Mestinya. Tapi tampaknya tidak bisa,” kata saya. “Aku tahu ada hadits, entah derajatnya sahih atau tidak atau malah palsu aku tidak tahu, yang intinya mengatakan bahwa Allah menyukai hamba-Nya yang mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Tapi mau bagaimana lagi, yang jelas-jelas sahih saja aku selalu gagal mengamalkannya hingga detik ini.”
“Hadits apaan?” tanya dia.
“Itu lho, tanda-tanda orang munafik ada tiga. Jika berbicara berdusta, jika berjanji ingkar, jika dipercaya berkhianat. Lha aku kalau ditanya kapan selesai terjemahannya nggak pernah bener njawabnya. Besok. Besoknya lagi menjawab besok. Tiga tanda itu komplit kumiliki. Sedih juga sih. Tapi aku sering menghibur diri dengan mengatakan ‘mendung pertanda hujan, tapi kan belum tentu hujan, itu cuma tanda’.”
Teman saya terpingkal-pingkal. Saya juga. Saya rasa kami sedang menertawakan diri sendiri. 

No comments:

Post a Comment