Pages

Thursday, January 14, 2016

Anonim



akun anonim pseudonim alter

 “Ah, malas mananggapi akun anonim,” begitu ujaran yang sering dijumpai di Twitter ketika satu akun enggan berinteraksi lebih jauh dengan akun lainnya yang tidak jelas siapa orangnya. Bagaimana mau jelas kalau user name-nya (at)gatalgatal, misalnya. Fenomena akun anonim ini pernah menyedot perhatian begitu banyak orang hingga pengguna Twitter setengah hati seperti saya jadi tahu bagaimana sepak terjang @benny_israel, @gurita_global, dan @aishawardhana, untuk sekadar menyebut beberapa dari sekian banyak fake accounts.  Dua akun yang disebut pertama dikenal sebagai akun anonim yang getol mengritik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan mengundang bermunculannya akun-akun real maupun anonim yang menyerang balik dua selebtwit itu. Sedangkan @aishawardhana cukup menggemparkan karena ketahuan bahwa akun itu akun bodong yang menyaru sebagai seorang dokter yang sempat tertembak dan diculik di Somalia. Akun yang mencitrakan diri sebagai seorang mualaf amat bijak ini kabarnya ada sangkut pautnya juga dengan @benny_israel dan adminnya (orang yang mengoperasikan akun tersebut) kini kabarnya menggunakan akun lain.
Agaknya ada tak terbilang banyak keuntungan atau kesenangan macam apa yang didapat dari bermain Twitter dengan menyembunyikan jati diri itu. Ada yang bilang aishawardhana adalah agen intelijen yang sedang menjalani semacam ujian kenaikan tingkat ketika aksinya menyaru sebagai dokter aktivis kemanusiaan di Somalia kedodoran. Ada juga yang mengatakan bahwa aishawardhana adalah simpatisan suatu partai yang kerap mengkritisi kebijakan pemerintahan Presiden Yudhoyono tetapi dibikin tak berdaya oleh cinta hingga bersedia mencari tahu siapa sesungguhnya @benny_israel. Entah kabar mana yang benar. Twitter memang panggung sandiwara sedunia di mana hampir siapa pun boleh bermain peran sesuka hati menjadi apa saja. Nenek-nenek pun bisa memantas-mantas diri sebagai gadis modis kutu buku bernama Maryama sang ahli bahasa dengan pengetahuan dan bacaan seluas tujuh samudra atau menjadi Venska si gadis belia pendamba cinta yang tak pernah ada.
Twitter is a fake world, begitu teriak akun @sahupradipta suatu kali.
Suatu ketika ada yang menyatakan bahwa penggunaan kata anonim untuk akun-akun beridentitas tak jelas tersebut tidaklah tepat. Mereka punya nama walaupun bukan nama sebenarnya. Jika demikian, istilah yang tepat untuk penggunaan nama selain nama diri untuk keperluan penyamaran adalah pseudonim. Pernyataan yang sungguh benar secara leksikal, sebab arti anonim adalah tanpa nama, tidak beridentitas, awanama, atau tidak ada penandatangannya. Sedangkan pseudonim adalah nama yang digunakan seseorang, seperti penulis, pengarang untuk menyembunyikan identitas sebenarnya; nama samaran. Twitter mempunyai kebijakan user name can’t be blank, sehingga secara bahasa akun anonim itu tidak ada. Contoh anonim misalnya, “Gundul-Gundup Pacul diciptakan oleh N.N” (n.n = no name), sedangkan psudonim “Langit Semakin Mendung karya Ki Panji Kusmin.”
Si penganjur pseudonim bukannya anonim itu teguh menggunakan istilah psudonim untuk menyebut apa yang oleh lazimnya pengguna Twitter disebut sebagai anonim, sama teguh dengan pilihannya menggunakan istilah pulau terdepan untuk menyebut apa yang oleh orang kebanyakan disebut pulau terluar. Baginya sebutan pulau terluar menyiratkan makna dikesampingkan atau didiskriminasi dalam pembangunan Indonesia. Dengan disebut pulau terdepan diharapkan perhatian pemerintah lebih banyak tercurah mengingat itulah pagar terdepan negara kita. Saya tidak sepaham dan karena itu tetap bertahan dengan istilah pulau terluar. Luar atau dalam hanya soal geografi sederhana sebetulnya. Soal mana lebih penting saya kira tak ada perlunya meributkan lebih penting mana ban luar atau ban dalam. Lagi pula, misalnya jika dikatakan bahwa Pacitan adalah kabupaten terdepan karena berada di tepian Lautan Hindia, dipastikan penduduk Ngawi akan kesal dibilang mendiami kabupaten terbelakang hanya karena berada di tengah Pulau Jawa di antara Laut Jawa dan Lautan Hindia.
Begitupun soal anjurannya tentang pseudonim bukannya anonim (saya tidak suka dengan kata alih-alih). Walaupun secara leksikal pseudonim adalah yang benar untuk menyebut penggunaan nama samaran, tetapi saya bisa menerima keumuman di dunia Twitter menyebut orang-orang demikian sebagai pemilik akun anonim. Mungkin penggunaan istilag anonim di Twitter lebih dekat pada pengertian anonimitas dalam arti tidak dikenal siapa jati diri sesungguhnya. Akun anonim lebih sering menunjuk pada upaya menutupi identitas akun-akun yang aktif dalam perbincangan politik, sosial dan budaya. Sedangkan untuk mereka yang bersembunyi di balik akun bodong untuk keperluan mengumbar sisi liar dalam urusan cinta, seks, roleplay dan lain sebagainya biasanya disebut akun alter. Biasanya mereka tidak menyentuh perbincangan politik. Yang jelas akun anonim atau alter bisa jauh lebih dikenal daripada akun real operator yang bersangkutan.
Penyembunyian jati diri dengan pseudonim (dalam dunia tulis menulis dahulu lazim disebut nama pena) ini sudah lumrah sejak dulu kala (yang benar dahulu kala). Saya tahu nama sebenarnya Voltaire adalah Jean-Marie Arouet sewaktu kuliah, lama sesudah membaca terjemahan Zadig karya Pak Arouet itu. Hingga kini saya bahkan tidak tahu nama asli Mark Twain (meskipun mudah mencari tahunya di era serba google ini). Konon, Mark Twain yang asli pernah menulis begitu jeleknya hingga dihujani kritik oleh seseorang. Mark Twain si penulis buruk begitu sedih dikecam sampai-sampai tidak mau menulis lagi dan tak terdengar kabar beritanya. Si pengecam amat menyesali kritik pedasnya yang mematikan semangat penulis bernama Mark Twain. Sebagai tanda penyesalan dia sandanglah nama pena Mark Twain. Ya, Mark Twain yang terkenal itu.
Jadi, anonim adalah penggunaan salah kaprah yang mestinya pseudonim. Lebih jauh, akun anonim bagi sebagian orang tidak anonim-anomin amat sebetulnya. Bahkan saya kenal dengan beberapa operator akun anonim. Apa masih bisa disebut anonim ya kalau begitu? Haha. Maka istilah akun alter lebih pas sebetulnya. Alter merujuk alter ego atau diri yang lain. Di Twitter, akun alter dipakai dalam upaya membebaskan sisi diri yang lain (bisa sisi yang terang bisa sisi yang gelap, tetapi yang saya temui kebanyakan sisi diri yang tak ketulungan kelamnya) agar leluasa bersuara di dunia maya, yang mustahil dilakukan dengan akun real. Misalnya begini, ada akun yang getol menganjurkan pemakaian hijab oleh Muslimah, menyampaikan manfaat berhijab, memuji artis-artis yang belakangan berhijab dan seterusnya. Dia tidak mungkin menggunakan akun real untuk motivasi baik itu karena akun real dia tidak .... ya gitu. Atau sebaliknya.
Keunggulan akun alter atau anonim adalah, jika pandai mengemas gagasan dalam kata-kata memikat, atau memasang avatar yang bikin orang klepek-klepek, bisa mendapat followers berkali-kali lipat lebih banyak daripada akun real-nya. Menyedihkan? Ya. Lebih menyedihkan lagi: satu orang mengoperasikan tiga atau empat akun alter dan saling bersahut-sahutan. Sementara akun yang real hanya ngetwit seperlunya menyesuaikan umur. Puncak tragedi adalah komedi.

No comments:

Post a Comment