Pages

Friday, September 2, 2016

Kelahiran Alam Semesta



Semesta amat besar dan luas yang batasnya tidak diketahui manusia ini sudah menjadi objek penyelidikan dan rasa ingin tahu selama berabad-abad. Pertanyaan-pertanyaan dalam benak tentang alam semetasta sangat banyak dan kompleks. Misalnya, bagaimana alam semesta ini muncul? Berapa umurnya? Apakah ia ada asal mulanya atau sudah ada dari dulu dan abadi?
Itulah sebagian pertanyaan yang menjadi pangkal selisih paham di kalangan filsuf Muslim selama ratusan tahun. Sementara bagi para filsuf ateis, mereka menyatakan bahwa alam semesta tidak membutuhkan pencipta karena materinya abadi, selalu ada. Karena itulah mereka menyandangkan bagi materi salah satu sifat Pencipta: kekal. Itu pula sebabnya salah satu prinsip fisika mereka adalah “Materi tidak bisa diciptakan tidak pula dihancurkan.”
Imam Ali Hamid al Ghazali, rahimahullah (semoga Allah merahmatinya), adalah orang pertama yang menyelesaikan problem semesta kuno (abadi) dan menanggapi semua pertanyaan terkait interval kosong, yaitu sela periode waktu antara keabadian dan penciptaan alam semesta. Imam Ghazali mengatakan bahwa alam semesta mewujud dan bahwa waktu belum ada sebelum itu, waktu dan ruang bermula setelah alam semesta karena waktu terjalin berkelindan dengan gerak. Kita bayangkan seandainya segala sesuatu di alam semesta ini berhenti bergerak maka waktu juga akan berhenti, dengan demikian tidak akan ada waktu. Maka keliru menggagas eksistensi waktu sebelum penciptaan alam semesta.
Karena teori relativitas mengindikasikan bahwa waktu adalah dimensi keempat, dengan demikian merupakan sesuatu yang naluriah jika waktu mustahil ada di semesta di mana dimensi-dimensi lain belum ada (koordinat dimensi xyz). Di sini kita tidak bermaksud menyelami kerumitan filsafat, yang bisa jadi membosankan pembaca dan tidak memberikan manfaat apa-apa. Yang kita inginkan adalah menunjuk teori ilmiah lain tentang kelahiran alam semestas dan bagaimana ia menjadi mapan, menggunakan bukti-bukti ilmiah bahwa alam semesta memiliki permulaan dan ia bermula beberapa miliar tahun lampau.
Alam Semesta: antara stasioner dan gerak
Dalam kenyataan, penemuan manusia atas fenomena radiasi adalah pukulan telak pertama bagi teori kekekalan materi. Sepanjang matahari dan semua bintang lain menyala dan memancarkan radiasi, maka pasti ada sebuah permulaan. Sekiranya mereka ada dari kekekalan maka bahan bakar mereka pasti sudah habis miliaran tahun lampau. Meski begitu, para ilmuan ateis sengaja mengabaikan fakta ini dan terus mempertahankan pendapat mereka bahwa alam semesta adalah kekal dan tidak memerlukan pencipta.
Teori keadaan tetap, yang diterima di kalangan ilmiah pada pertengahan abad kedua puluh, menyatakan bahwa alam semesta diam di tempat dan tak terbatas secara waktu maupun spasial. Inilah satu contoh teori asal mula alam semesta, yang berfungsi sebagai sebuah referensi yang bisa diterima (bagi teori modern) atau setidak-tidaknya tidak menegasikan sebagian besar klaim penting mereka – kekekalan materi.
Meski begitu, fisika menyodorkan sarana-sarana penting untuk mengetahui beberapa karakteristik benda-benda langit dan bintang. Pada tahun 1913 Vesto Melvin Slipher, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa beberapa benda yang tadinya disangka debu kosmis sedang menjauhi kita dengan kecepatan seribu delapan ratus kilometer per detik. Penemuan ini adalah kejutan besar bagi para ilmuwan. Benda-benda itu ternyata adalah galaksi-galaksi yang jauh dari kita. Oleh sebab itu Edwin Hubble pada tahun 1929 menerbitkan hukum terkenalnya: “Galaksi-galaksi menjauhi kita dengan kecepatan yang berbanding lurus dengan jarak mereka dari kita.”
Kemudian menjadi jelas bahwa galaksi-galaksi tidak hanya menjauh dari kita, mereka juga menjadi semakin jauh satu sama lain. Dan ini artinya alam semesta terus mengembang secara ajek sesuai dengan firman Allah:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuatan. Sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Surat Adz Dzaariyaat: 47).
Sup Primordial
Karena alam semesta terus-menerus mengembang, andai kita memutar mundur film (tentang sejarahnya) pasti akan kita dapati seluruh alam semesta ini di masa lalu terpusat pada satu titik sederhana yang di kalangan ilmuwan dikenal dengan sebutan Atom Primordial atau Sup Primordial. Ilmuwan-ilmuwan lain berpendapat bahwa ukuran titik itu setara dengan sebuah nol (0) dan massanya tak terbatas. Ini adalah cara lain mengatakan bahwa alam semesta berasal dari ketiadaan karena itulah arti ukurannya setara dengan sebuah nol.
Bagaimanapun juga, kekuasaan macam apa yang mampu melontarkan seratus miliar galaksi dengan kecepatan sedahsyat itu, menempatkan satu galaksi sangat jauh dari galaksi lain, yang dengan demikian membangun sebuah semesta ekspansif semacam itu? Tidak mungkin bahwa kekuatan itu adalah tarikan gravitasional atau gaya tolak antara muatan sejenis. Tarikan gravitasi adalah daya yang menarik benda-benda langit menuju sebuah pusat dan tidak melontarkan mereka keluar. Begitu pula dengan gaya tarik antara muatan sejenis, ia terlalu lemah untuk menggerakkan skenario ini. Mengingat perimbangan muatan (antara positif dan negatif) di alam semesta, daya macam itu nyaris tak ada antara benda-benda langit.
Oleh karena itu, sebuah ledakan dahsyat mesti terjadi pada saat kelahiran alam semesta dan itulah yang menyebabkan mengembangnya alam semesta. Para ilmuwan menamakan ledakan dahsyat ini  “Dentuman Besar” (Big Bang). Setelah beberapa revisi atas teori “Dentuman Besar”, secara ringkas bunyi aktual teori ini adalah: “Sebuah ledakan dahsyat terjadi pada Atom Primordial ini yang berisi seluruh material dan energi yang terdapat di semesta saat ini. Pada saat pertama ledakan besar, suhunya naik menjadi beberapa triliun derajat ketika bagian-bagian atom (neutron, proton dan elektron) terbentuk dan ini semua membentuk atom-atom. Atom-atom ini membentuk debu kosmis yang nantinya memunculkan galaksi-galaksi.”

Kapan terjadinya ledakan Semesta?
Kapan “Dentuman Besar” itu terjadi? Saat pastinya belum ditetapkan. Namun, jika kita ingat bahwa Hoyle memperkirakan untuk satu juta tahun cahaya diperlukan kecepatan 15,3 kilometer per detik, kita dapatkan angka dua puluh miliar tahun. Tetapi tidak boleh kita lupakan bahwa kecepatan ekspansi alam semesta dan penjarakan galaksi-galaksi tidak konstan. Pembuatan jarak itu lebih cepat di masa lalu. Oleh karena itu sejarah alam semesta setidak-tidaknya lebih dari lima belas miliar tahun. Inilah pendapat yang paling kuat saat ini. Salah satu bukti teori “Dentuman Besar” adalah adanya radiasi kosmis. Para ilmuwan mengatakan bahwa sebuah ledakan seperti itu pasti meninggalkan radiasi. Radiasi itu terdeteksi ketika NASA meluncurkan sebuah satelit buatan ke angkasa pada tahun 1989 untuk memastika keberadaan radiasi tersebut. Satelit itu dilengkapi dengan peranti sensor modern. Hanya delapan menit yang diperlukan oleh satelit itu untuk mendeteksi radiasi tersebut dan mengukurnya.
Bukti lain yang mendukung teori ini ini jumlah relatif gas hidrogen dan helium di alam semesta yang sesuai perkiraan (kelimpahan relatif) menurut teori ini. Jika semesta itu kekal (sudah ada sejak kekekalan) maka semua hidrogennya akan terbakar dan menjadi helium.

Dilema pendukung keberadaan kekal (alam semesta)
Pentingnya teori “Dentuman Besar” tidak terbatas pada berbagai bidang sains dan astronomi saja; teori ini juga melucuti senjata, atau kita sebut saja dalih, para filsud dan ilmuwan ateis yang mereka andalkan karena teori ini mengakhiri mitos kekekalan materi dan semesta.
Teori ini membikin gerah beberapa ilmuwan dan filsuf ateis. Misalnya, filsuf ateis Anthony Phillip mengatakan: “Mereka katakan: Kesadaran bermanfaat bagi manusia dari perspektif piskologis dan saya akan mendasarakn pendapat saya pada kesadaran. Contoh “Dentuman Besar” adalah sesuatu yang memalukan bagi para pemikir bebas karena sains membenarkan sebuah ide yang dipertahankan kitab suci agama-agama ... ide bahwa semesta memiliki sebuah permulaan.” Ilmuwan Denis Zikmor (salah satu pendukung paling gigih teori semesta tidak berkembang stasioner) mengatakan: “Saya tidak membela teori semesta stasioner karena teori itu benar tetapi karena saya berharap itu benar. Bagaimanapun juga, setelah pengumpulan bukti-bukti, menjadi jelas bagi kita bahwa saat bersenang-senang sudah berakhir dan harus sepenuhnya meninggalkan sepenuhnya teori tentang semesta tidak berkembang stasioner ini.”
Selain fakta bahwa materi diciptakan dan tidak kekal dan bahwa semesta ada permulannya teori Dentuman Besar menunjukkan keberadaan Pencipta, dan semesta diciptakan oleh Pencipta. Sifat “Dentuman Besar” ini menambahkan bukti lain bahwa semesta diciptakan menurut ukuran-ukuran yang tepat dan dengan tatanan memukau. Ini karena suatu ledakan selalu merusak, menghancurkan, mencerai-beraikan dan menyebar materi. Bagaimanapun juga, ketika kita mengamati suatu ledakan dengan kedahsyatan dan guncangan semacam itu menghasilkan formasi dan konstruksi sebuah semesta yang teratur sempurna, di balik itu pasti ada Tangan Perkasa, Pengetahuan, Desain dan perkiraan luar biasa akurat yang lebih besar dari apa pun. Inilah yang dimaksud ilmuwan Inggris terkemuka Fred Hoyle ketika mengatakan: “Teori Dentuman Besar memberi tahu kita bahwa alam semesta berasal dari sebuah ledakan besar dan kita semua mengeri bahwa setiap ledakan meremukkan dan menyebar materi tanpa keteraturan. Tetapi ledakan besar ini menghasilkan yang sebaliknya, ia menyebar materi dalam cara yang tertata. Ia memperlakukan materi dalam cara yang diliputi misteri, mengatur materi untuk membentuk galaksi.”

Kecepatan ekspansi alam semesta
Salah satu misteri paling signifikan “Dentuman Besar” ini adalah luar biasa pentingnya kecepatan ekspansi yang diberikannya kepada alam semesta setelah ledakan. Inilah yang dimaksud ilmuwan ternama Inggris Bill Davis ketika mengatakan, “Berbagai perhitungan menunjukkan bw laju rekspanse alam semesta tak terkatakan pentingna. Jika semesta mengembang dengan laju sedikit lebih lambat dari kecepatannya sekarang, semesta pasti akan runtuh ke dalam karena kekuatan gaya tarik gravitasi. Dan jika laju ekspansinya sedikit lebih besar dari kecepatan aktualnya, tentunya materi alam semesta akan tersebar dan alam semesta hancur. Sekiranya kecepatan ekspansi berbeda dari kecepatannya yang diketahui sebanyak satu dalam 1018 bagian, itu saja sudah cukup untuk mengganggu ekuilibrium yang diperlukan, Karena itulah “Dentuman Besar” bukan sebuah ledakan normal melainkan sebuah aktivitas yang diperhitungkan dan diatur dengan sangat cermat di semua bidang.
Apa yang bisa kita tarik dari semua uraian dan fakta ilmiah ini? Davis menjelaskan kesimpulan tak terelakkan dan tak terbantahkan dari semua bukti itu: “Sangat sulit menyangkal bahwa suatu kekuatan masuk akal yang cerdas memunculkan alam semesta ini yang bergantung (untuk stabilitasnya) pada perhitungan yang jelas dibuat dengan cermat. Tentu saja variasi-variasi ekstrem dalam nilai-nilai bilangan yang teramati (dari berbagai parameter) dan hal-hal terkait dengan ekuilibrium alam semesta adalah bukti yang sangat kuat bagi keberasaan sebuah rancangan bagi cakupan alam semesta.”
Sedangkan bagi ahli fisika Stephen Hawking, ketika membicarakan dalam bukunya A Brief History of Time kecanggihan manakjubkan kecepatan ekspansi alam semesta pada saat pertama ledakan dahsyat, mengatakan: “Kecepatan ekspansi alam semesta begitu signifikan hingga andai pada saat pertama ledakan kurang dari satu pecahan dan 1 bagian dalam 1018 bagian, maka alam semesta akan runtuh menimpa dirinya sendiri sebelum mencapai luasnya saat ini.”
Begitulah cakupan detail menakjubkan dalam mengatur ledakan “Dentuman Besar” dan rancangan kecepatannya.
Kesimpulan akhir yang dicapai astronom Amerika George Greenstein dalam bukunya Symbiotic Universe adalah: “Semakin kita memeriksa bukti-bukti dengan cermat makin sering kita menghadapi kenyataan itu sendiri, bahwa ada kekuatan cerdas di luar alam yang camput tangan dalam permulaan alam semesta.”
“Berkata rasul-rasul mereka: ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, pencipta langit dan Bumi? ...” (Surat Ibrahim: 10).
(Aurakhaan Muhammad Ali/Istanbul)

Diterjemahkan dari Scientific Wonders on the Earth & in Space By Yusuf Al-Hajj Ahmad

 
terjemahan kosmologi
sumber gambar: www.amazon.com