Pages

Saturday, January 16, 2016

Konflik Air



konflik pemanfaatan air

Kebutuhan yang selalu meningkat dan ketersediaan air yang potensial untuk dimanfaatkan yang selalu tetap bisa berujung pada konflik. Sama seperti yang terjadi pada semua komoditas langka yang diperlukan semua manusia. Sedangkan air adalah kebutuhan pokok, sehingga kelangkaannya bisa memicu konflik bersenjata di beberapa wilayah seperti yang terjadi antara sejumlah negara Arab melawan Israel dan antara India vs Pakistan.
Pada tanggal 27 Mei 1977 sekelompok petani California mendinamit sebuah talang yang menyalurkan air ke suatu distrik yang berdekatan. “Perang air” lainnya dilakukan dengan bersenjatakan garpu rumput, senapan penabur dan tinju. Pada tahun 1960-an persengketaan semacam itu timbul antara Kansas dan Nebraska. Ada kekhawatiran jangan-jangan sumur-sumur untuk proyek pengairan di Nebraska yang diusulkan akan menurunkan muka air dan mengganggu aliran sungai yang menyediakan air bagi perladangan di Kansas.
Penyadapan airtanah secara semau-maunya memang dapat menimbulkan bencana. Ketika terlalu banyak air disadap dari sebuah lapisan di bawah Lembah San Joaquin, California, tanah yang terpecah-pecah oleh retakan yang dalam di tempat itu menurun permukaannya sampai tujuh meter. Penyadapan air tanah yang berlebihan di suatu bagian Arizona menurunkan muka air sampai 122 meter – dan 129.500 hektare tanah pertanian hilang karena biaya pengairan menjadi terlalu mahal. Persediaan air di beberapa bagian Texas benar-benar sudah habis.
Di negeri kita, kisah-kisah perebutan air semacam itu juga lazim terdengar dalam skala kecil, biasanya terkait dengan perebutan jatah air untuk mengairi sawah. Malam-malam mudah ditemui sorot lampu senter berjalan membelah gelap gulita persawahan. Sorot lampu para petani yang menjaga aliran air ke sawah mereka dari gangguan para petani lain yang saat itu tidak mendapat jatah aliran air. Jika ada yang kedapatan sedang menjebol aliran irigasi ke sawah seseorang tetapi saat itu gilirannya, biasanya pertengkaran pecah. Jika amarah memuncak dan kekuatan seimbang, adakalanya cangkul berfungsi tidak sebagaimana mestinya.
Tetapi belakangan konflik terkait air tidak lagi berskala kecil melainkan melibatkan aksi protes massa dan kepentingan-kepentingan korporasi besar seperti yang terhadap di Klaten. Klaten dikenal sebagai daerah yang kaya akan sumber air, namun potensi tersebut baru mencuat sejak diberlakukannya Undang-Undang Otonomi Daerah dengan mengizinkan sumber daya air dikuasai oleh swasta asing dengan memberi izin operasi PT Tirta Investama demi peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Namun, eksploitasi PT Tirta Investama melalui sumur bor di sekitar mata air Sigedang dan Kapilaler telah mengurangi jumlah air irigasi bagi lahan pertanian terutama di daerah hilir. Akibatnya petani melakukan protes dan perlawanan. Masalah kekurangan air irigasi bagi petani di sepanjang jaringan irigasi Kapilaler menjadi penyebab utama terjadinya konflik. Pemaknaan petani terhadap kebijakan pemanfaatan sumber air Sigedang (MoU) dan inkonsistensi PT Tirta Investama dalam implementasi MoU juga menjadi faktor pemicu munculnya konflik. Konflik terjadi antara dua kelompok, petani yang beraliansi dengan Kraked dan Pemerintah Kabupaten Klaten yang beraliansi dengan PT Tirta Investama. Upaya penyelesaian yang dilakukan melalui mediasi, dengan kesanggupan PT Tirta Investama mencairkan dana program sosial sebesar 1 miliar, untuk sementara mampu meredam konflik. Akan tetapi penyelesaian ini masih menyisakan konflik latent karena saat ini Pemkab telah memberikan ijin peningkatan debit pengambilan air PT Tirta Investama. Peningkatan debit ini menimbulkan kekhawatiran petani akan ketersediaan debit air Sigedang di masa depan.
Konflik yang berhubungan dengan pemakaian air akhirnya meluas melampaui kawasan pedesaan dan merambah perkotaan seiring dengan perkembangan pembangunan industri pariwisata. Pada hari Rabu 3 September 2014 warga Miliran, Yogyakarta, kembali melancarkan protes terhadap manajemen Hotel Fave di Jalan Kusumanegara Yogyakarta. Kali ini puluhan warga melakukan aksi 'pepe' atau berjemur diri di depan hotel tersebut. Aksi ini bukan aksi yang pertama dilakukan warga. Sejak Agustus lalu warga sudah melakukan aksi protes. Hal ini dilakukan karena sumur warga Miliran mengering setelah berdirinya hotel tersebut. Mereka mengatakan bahwa sejak hotel Fave berdiri, banyak sumur milik warga yang mengalami kekeringan. Padahal sebelumnya, meski kemarau panjang sumur warga masih layak konsumsi.
Tiga kasus persengketaan karena air ini hanyalah setitik dari banyak sekali problem yang timbul karena kelangkaan dan, akhirnya, perebutan air. Khususnya air tanah, tipe air yang paling dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-hari.


Bahan bacaan:
Dinar Wahyuni, Konflik Pemanfaatan Sumber Air Sigedang: Studi di Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten, Tesis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2007.
Luna B. Leopod, Kenneth S. David dan para editor Pustaka Time-Life, Air, Tira Pustaka, Jakarta, 1983.

No comments:

Post a Comment