Pages

Wednesday, January 20, 2016

Tembakau Virginia Flue Cured




Sejarah tembakau Virginia, nama yang diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, bermula sewaktu Perang Saudara A.S. berkecamuk pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhan akan rokok yang lebih lembut, dengan kadar nikotin rendah, namun tetap menebar wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tetapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.
Abisha Slade, seorang tentara berpangkat kapten yang juga petani tembakau sukses di Carolina Utara, dianggap sebagai orang yang mengawali tradisi produksi tembakau Virginia Flue Cured (FC). Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah. Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Dia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.
Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun dia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa dia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, ini dia, muncullah daun berwarna terang. Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.
Temuan itu mengubah banyak hal. Tanah daerah Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured. Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.
Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama rokok putih.
Di Indonesia, Pulau Lombok dikenal sebagai penghasil tembakau Virginia FC kualitas baik. Konon sejak zaman Belanda tembakau sudah banyak ditanam di Lombok. Waktu itu tembakau yang ditanam disebut tembakau rajangan Ampenan. Dahulu Ampenan adalah kota pelabuhan pelabuhan besar tempat kapal-kapal niaga bersandar.
Pada awalnya petani tembakau di Lombok menjual tembakau dalam bentuk basah dan rajangan. Selain tidak banyak memberi untung petani, cara seperti itu juga merugikan pabrik karena sulit menetapkan grade. Kondisi itu diperunyam oleh inefisiensi karena penambahan tenaga kerja. Akhirnya, berkat upaya pembenahan intensif para petani tembakau di Lombok mulai menjual tembakau kering.
Sampai saat ini Lombok masih menjadi pemasok utama kebutuhan tembakau Virginia di Indonesia. Kualitas tembakau Virginia dari Lombok cukup diperhitungkan di dunia. Saat ini luas areal tembakau di Lombok berkisar antara 22 hingga 24 ribu hektare. Lahan seluas itu bisa memproduksi kurang lebih 40.000 ton tembakau Virginia. Kendati demikian, jumlah sebesar itu masih kurang untuk memenuhi kebutuhan Virginia di Indonesia. Akibatnya, Indonesia masih harus mengimpor tembakau Virginia dari beberapa negara penghasil tembakau Virginia seperti Cina dan Brazil.
Saat ini pasar sigaret dunia menginginkan rokok putihan yang bernikotin rendah. Tren sudah berubah drastis. Diperkirakan tren rokok putihan ini masih akan bertahan cukup lama mengingat adanya peraturan yang membatasi kandungan nikotin dalam rokok. Karena itulah tembakau Virginia sangat dibutuhkan.
Pada tahun 1964 Suwarno M. Serad meramalkan perubahan tren rokok dalam dua dekade mendatang. Menurut Serad, alumnus Institut Teknologi Bandung, pola makan manusia berubah drastis. Jika dahulu didominasi karbohidrat, sekarang sudah mulai digeser protein. Ini berpengaruh terhadap aftertaste dalam merokok dan pada gilirannya mengubah preferensi orang dalam memilih rokok. Orang yang suka makan daging cenderung menyukai rokok ringan.
Prediksi Serad terbukti. Pada pertengahan dekade 80-an permintaan rokok putih yang meningkat membuat Djarum memutuskan untuk menanam tembakau Virginia secara lebih intensif di Lombok.
Meningkatnya permintaan rokok putih rendah nikotin juga didorong oleh pembatasan kadar tar dan nikotin dalam rokok. Untuk produksi rokok putih rendah nikotin, jenis tembakau yang paling cocok adalah Virginia FC. Tembakau Virginia FC memiliki karakter tipis, elastis, dengan daya kembang tinggi, mempunyai kadar gula yang tinggi, dan kadar nikotin rendah.
Lombok menjadi pilihan karena karakter tanahnya yang subur dan memiliki pengairan yang baik. Selain itu, perbedaan antara siang dan malam cukup tegas. Tegas dalam arti, antara lain, pada siang hari suhu bisa mencapai 32 derajat Celcius dan malamnya bisa turun menjadi 20 derajat Celcius. Ada jarak yang tegas antara suhu siang dan malam sehingga hasil proses fotosintesis pada siang hari bisa ditumpuk dengan baik malam harinya. Ibarat orang bekerja seharian, bisa beristirahat dan bermetabolisme dengan baik malam harinya. Selain itu, di Lombok juga jelas batas antara musim hujan dan musim kemarau. Daerah-daerah lain seperti Lampung dan Kalimantan tidak memiliki ketegasan seperti itu. Lombok semakin ideal bagi tembakau karena airnya banyak mengandung MG, unsur kimia yang merupakan salah satu unsur utama pembentuk klorofil.
Tembakau Virginia FC di Lombok berkembang pesat. Pada tahun 1990, dari segi kuantitas maupun kualitas produksi, tembakau Virginia FC di Lombok sudah menyalip tembakau Virginia Bojonegoro. Dalam waktu singkat Lombok berhasil menjadi pemasok utama Virginia FC mengalahkan Bojonegoro karena beberapa faktor. Pertama, produksi tembakau Bojonegoro mengalami penurun kuantitas maupun kualitas. Ini disebabkan oleh penggunaan chlor yang tinggi dalam pupuk. Padahal karakter tanah di Bojonegoro memiliki kadar air cukup tinggi yang mengendapkan chlor dalam tanah, sedangkan chlor kurang baik untuk tembakau.
Faktor kedua, petani tembakau di Lombok tidak takut berinovasi. Sedangkan para petani di Jawa sering terlalu takut dan berhati-hati dalam budi daya. Sehingga jika ada inovasi baru dari pabrikan petani agak ragu dalam menerapkannya. Petani Lombok lebih berani dalam hal ini sehingga saran-saran mutakhir dari pabrikan bisa diterapkan langsung, dan hasilnya pun terlihat langsung.

Dipetik dan diolah dari buku Dunia Iskandar: Tembakau, Humanisme dan Kepemimpinan oleh Nuran Wibisono.
Sumber gambar: http://bukukretek.com/

No comments:

Post a Comment