Pages

Friday, February 12, 2016

Dikutuk ingatan



Annemarie Schimmel, penulis buku-buku Sufi terkenal itu, di antara yang pernah saya baca adalah Rahasia Wajah Suci Ilahi, sering dianggap memiliki ingatan fotografis. Konon dia bisa mengingat seperti kamera merekam huruf-huruf di halaman buku yang dibacanya. Kata tulisan-tulisan ilmiah yang saya baca tidak ada itu yang namanya ingatan fotografis. Saya tidak tahu mana yang benar. Tetapi sering saya jumpai kisah tentang orang dengan ingatan luar biasa dengan kemampuan daya rekam melebihi komputer. Misalnya seorang perempuan tua yang bertugas mengurusi dokumentasi milik badan rahasia Inggris yang mampu mengenali foto seorang agen musuh dari ratusan ribu foto yang tersimpan. Perempuan itu memang hanya tokoh fiktif dalam novel Protokol Keempat, tetapi gaya tutur Frederick Forsyth mengesankan kekaguman sang penulis pada kemampuan mengingat laksana kamera foto.
Mungkin ingatan fotografis itu tak ada, dan tak perlu ada. Meski kemampuan mengingat saya tak ada apa-apanya dibandingkan kehebatan Bu Annemarie Schimmel, ingatan yang saya miliki sudah cukup merepotkan. Bagaimana lagi kalau ingatan fotografis itu benar-benar ada dan saya memilikinya? Jika demikian, dalam kasus saya tentu kemampuan itu lebih merupakan kutukan ketimbang berkah, mengingat pengalaman saya dengan hafalan dan pemahaman.
Saya bisa membaca dan menulis Al Qur’an bukan karena belajar dari buku Iqra. Belum ada buku semacam itu saat saya masih kecil. Kemampuan saya membaca dan menulis Arab datang berkat kebiasaan saya menghafal surat-surat pendek Juz Amma (dahulu lazim disebut turutan, entah mengapa bisa begitu). Setiap anak mempunyai kecenderungan sendiri-sendiri. Sebagai anak saya lebih suka menghafal nama-nama ibu kota sedunia, meski itu tidak diajarkan di sekolah, daripada membaca buku pelajaran. Kegembiraan menghafal ini saya lakukan setelah selesai belajar mata pelajaran yang ada di jadwal untuk keesokan hari.
Ingatan kuat itu jugalah yang menolong saya membawa tim sekolah kami menang cerdas cermat P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Malam sebelum lomba, saya hafalkan saja isi buku tanya jawab P 4, tentu saja tanpa tahu apa uraiannya, apalagi maksudnya. Bahwa kemenangan itu tak ada artinya karena saya menggagalkan sekolah kami maju ke karesidenan karena saya tak mau jadi juru bicara sebab ogah duduk jejer dengan teman perempuan yang tidak saya sukai, itu soal lain yang tak ada urusannya dengan hafalan. Begitulah, saya kuat di hafalan. Kekuatan yang nantinya terpaksa saya biarkan mati pelan-pelan karena ucapan dosen Pengantar Ilmu Ekonomi yang kurang lebih begini bunyinya, “Jadi mahasiswa jangan hafalan, tetapi pertajam pemahaman. Hafalan itu di sekolah, di perguruan tinggi kalian adalah men of analysis.” Saya mengamini saja pandangan yang tentunya ilmiah intelekutuil lagi cerdik cendekia itu. Hasilnya: ingatan tajam saya tumpul, analisis saya tak kunjung tajam. Pendeknya, pendidikan tinggi menghancurkan kemampuan andalah saya dengan menganggapnya itu kolot, tak mutakhir.
Bagaimanapun juga, hafalan (yang tentunya mensyaratkan ingatan tajam) yang memulangkan saya ke pengkuan Islam dari upaya sok-sokan pencarian menjadi agnostik kalau bukan malah ateis. Memang bukan penyebab utama, tetapi hafalan Surat Luqman ayat 12-19 yang tak lekang oleh apa pun itu sangat besar pengaruhnya dalam perjalanan pulang saya. Untuk itu saya sampaikan terima kasih tak terhingga kepada Ustadz Muzayyin. Sekarang saya sering berpikir, “Baiklah, kalau hafalan itu buruk bagi mahasiswa buat apa pertanyaan dalam ujian ‘Sebutkan definisi kapal menurut Kitab Undang-Undang Hukum Dagang?” Atau ‘Dalam pasal berapa BW terdapat asas Pacta Sun Servanda?” atau lagi, ini lebih sederhana, “Apa hukum itu?” Dalam ujian yang tak pernah open book apa kiat sukses ujian kalau bukan hafalan? Bahkan, dalam ujian Pengantar Ilmu Ekonomi ada pertanyaan 'Siapa penulis buku Megatrend 2000?' Lah, di mana kegunaan analisis tajam yang didengung-dengungkan itu? Karena tidak tahu, saya jawab saja Inisisri. Tentu saja salah, wong itu nama personel Swami. Haha.

Bahwa ingatan saya memukau, menurut beberapa orang, tampak dari ingatan saya pada kajadian saat saya menyusul Pak Mo yang bergegas ke Stasiun Paron. Saat itu saya masih tiga tahun. Bahkan ucapan saudara sepupu saya, “Dik Nanang iki jênêngé uyêk-uyêk” sambil menunjukkan ulek-ulek selalu mengundang reaksi, “Kok kamu ingat itu?” dari paman dan bibi saya yang mendengar dialog kami pada paruh awal 1970-an itu. Sampai hari ini saya masih ingat tawa Bu Yul sewaktu saya naik ke atas meja (TK Bayangkari Parakan) dan menyanyi, “Sepasang remaja jatuh cinta, di bawah asuhan dewi asmara ...” Saya sering enggan bertandang ke teman lama karena harus bersusah payah menjelaskan siapa saya sedangkan di mana rumahnya pun saya masih ingat. Bahkan, nama-nama (yang saya kenal dahulu, karena ada sebagian yang memang saya tidak kenal) dalam foto di bawah ini saya masih ingat. Mungkin mereka bahkan tidak tahu kalau saya pernah ada :D
memori fotografis
Dari kiri ke kanan: Bu Tin, Mustofa, saya tak tahu namanya, dan saya.

Bahasa. Apa metode selain menghafal sharaf dalam bahasa Arab? Tahu mengapa Allah dalam ilmu nahwu bukan muannas bukan pula mudzakar itu bagaimana kalau tidak karena hafalan? Bagaimana bisa mengerti konyugasi kata kerja bahasa Prancis yang semaunya sendiri itu selain hafal dasar-dasarnya? La Tunisia dan la Libye tetapi le Sudan dan le Maroc itu bagaimana cara memahaminya? Tak usah jauh-jauh, saksofon dan gramafon karena Inggrisnya saxophone dan gramaphone tetapi telepon walaupun aslinya telephone itu bagaimana menuliskannya dengan benar kalau bukan karena hafal? Hafal bukan hapal namun napas bukan nafas tentu mudah dibedakan kalau hafal. Tumpulnya hafalan dan setelah itu pun analisis tak juga tajam saya ratapi sejadi-jadinya. Menganalisis situasi hukum Indonesia yang sejauh timur dan barat antara hukum sebagaimana termaktub dalam undang-undang dengan hukum sebagaimana ia berjalan saja saya tak bisa-bisa hingga malas melakukannya. Bukannya hafal Al Qur’an dan beberapa ratus ribu hadits, yang tersisa malah ini: saya ingat hal-hal remeh bahkan hingga bertahun-tahun kemudian. Misalnya, saya masih ingat siapa pemilik motor AB 5633 CN dan mobil B 1698 DP. Yang punya, dulu mahasiswi Komunikasi Fisipol UGM, mungkin sudah tidak ingat pelat nomor tersebut. Apa ini kalau bukan dikutuk ingatan?
memori fotografis



No comments:

Post a Comment