Pages

Saturday, February 13, 2016

Cinta abadi



“Aku pernah melihat pasangan yang menjadi tua bersama dalam cinta selamanya. Dari sorot mata dan bahasa tubuh mereka jelas sekali terlihat bahwa mereka saling mencintai. Percayah, cinta abadi itu ada,” ujar seorang perempuan yang meyakini abadinya cinta.
cinta abadi suci murni selamanya
Because Forever in Love is Forever Young

Sejak awal saya tidak pernah percaya ada cinta abadi. Saya percaya saja penelitian yang mengatakan bahwa rasa cinta ditimbulkan oleh proses kimia tertentu di otak yang membuat orang “mau makan tidak lapar, mau tidur tidak ngantuk, maunya ketemu sama dia” selama paling banter dua tahun. Pengalaman saya menunjukkan memang begitu adanya. Bahkan, katanya, getar-getar rasa paling menggairahkan tiada duanya adalah ketika kita yakin bahwa perempuan yang kita incar 75% mau menerima ajakan kita memadu cinta. Nggak tahu juga ya apa perempuan begitu juga terhadap laki-laki, saya belum pernah jadi perempuan soalnya. Begitu jadian, satu dua pekan pertama serasa melayang mendapati tangan si dia melingkar di pinggang saat naik sepeda motor. Dan seterusnya. Tak sampai dua tahun tindakan yang lebih dari sekadar melingkarkan tangan di pinggang sekalipun terasa biasa. Dan putus bukan hal luar biasa juga.
Cinta sejati itu apa? Mencintai tanpa mengharap kembali hanyalah jiplakan dengan sedikit modifikasi syair lagu “hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia.” Dilihat dalam kilas balik, tak ada indah-indahnya rangkaian waktu yang disinggahi rasa cinta itu. Begini uraiannya.
Konon, secara antropologis perempuan lebih siap untuk putus. Sebab leluhur mereka dahulu, pada zaman meramu dan berburu, sudah terbiasa ditinggal pergi laki-laki mereka yang mencari makanan untuk waktu lama. Nah, perempuan zaman itu tinggal di desa untuk menunggu rumah dan membesarkan anak. Laki-laki mereka yang pergi berburu bisa saja tidak pulang karena alam tidak seramah sekarang, atau desa lain tempat persinggahan lebih menawan. Lagi pula, kalau pulang-pulang terus bagaimana bisa umat manusia menyebar dari Afrika (atau dari Xuchang di Provinsi Henan, menurut otoritas Cina) ke seluruh dunia? Maka wajar jika perempuan di desa menerima kedatangan tim pemburu lain entah dari desa mana dan bercinta lalu beranak pinaklah mereka. Laki-laki dari desa entah itu akan pergi lagi melanjutkan perjalanan. Dan perempuan di desa tadi ... begitu seterusnya sampai bab berburu dan meramu ditutup dalam buku sejarah.
Karena sering ditinggal para lelaki berburu, para perempuan di desa itu pun lebih akrab sesama mereka dibanding relasi sesama para pemburu. Alhasil, jika seorang perempuan sedih karena ditinggal pemburu dia bisa berbagi duka dengan teman-temannya yang juga menunggu desa sehingga, sampai masa kita ini pun, dipandang lumrah saja jika mereka saling berpelukan untuk menguatkan. Laki-laki adalah pemburu, tentu harus gagah, pantang sedih karena cinta walau hati meraung. Pelukan? Wah, terbayang pun tidak!
Karena perempuan yang tinggal di desa punya tanggung jawab menjaga tempat tinggal dan membesarkan anak, wajar kalau mereka lebih menyukai pemburu lebih perkasa dan membawa hasil buruan lebih banyak yang datang belakangan. Yang lebih segala-galanya dari laki-lakinya yang mungkin sedang menyabung nyawa melawan ganasnya alam. Andai sudah ada sms waktu itu, tentu lebih banyak laki-laki yang mati merana karena putus jarak jauh ketimbang diterkam binatang buruannya. Tetapi zaman itu pun kalau laki-laki duluan yang menyatakan kejemuan dan minggat dari desa, dia akan didakwa sebagai orang paling jahanam sejaman batu.
Ini karangan saya saja sih. Cerita ngawur yang saya ulang-ulang kepada teman-teman yang tercabik-cabik harga diri mereka karena kalah set diputus duluan oleh para gadis.
cinta abadi suci murni selamanya
Hahaha ... cinta abadi? Hahahaha

Kembali ke penutur cinta abadi selamanya tadi. Saya agak ingin percaya karena yang bertutur itu perempuan tua yang tampaknya sudah banyak makan asam garam. Mungkin saja dia benar. Tetapi rasa ingin percaya itu buyar begitu saja setelah dia kelepasan bercerita bahwa di usianya yang hampir malam itu nestapa saja yang menyertainya hingga tubuhnya mulai bungkuk. Dicerai suami pertama, digambar mati suaminya yang kedua. Saya maklumi saja kisah dia tentang sepasang lansia bergandengan mesra menebar cinta ke semesta raya itu sebagai impiannya. Impian delusional. Tapi ya tidak apa-apa. Itu hiburan dia. Cuma itu caranya menggapai bahagia.
 Dugaan saya, namanya juga dugaan bukan penelitian jadi bisa benar bisa banyak salahnya, cinta abadi adalah hasil provokasi produsen rekaman dengan menelurkan album semacam Forever in Love Kenny G. yang diiklankan dengan klip video bocah lelaki dan perempuan main ayunan dan menjadi tua bersama di ayunan itu juga persis ketika Kenny G mengakhiri tiupan saksofonnya. Pengulangan kata-kata dikemas irama mendayu seperti “I’ll be yours till I die”, “Till death do us part” “Forever and ever”, “Love Will Kep Us Alive”, “Eternal Flame” “I Don’t  Want To Live Without Your Love” dan segudang gombal dipermak cantik lainnya adalah taktik Illuminati mengoyak hati manusia produktif agar menyia-nyiakan energi yang seandainya dipakai sebagaimana mestinya mampu melesatkan Bumi ini ke galaksi lain. Dan cinta pun terus melahirkan penyair dadakan pada mulanya dan pemabuk goblok pada akhirnya. Begitu seterusnya sampai Pluto jadi planet lagi.
 
cinta suci murni abadi selamanya
Nunggu Pluto jadi planet lagi ... Hahahaha
Tetapi kalau mau jujur, cinta abadi itu ada. Don Juan DeMarco yang tersohor itu sudah membuktikannya. Mungkin Casanova juga. Cinta terus membara sepanjang hayat, perempuan sasaran cintanya saja yang berubah-ubah dalam jumlah tak terbilang.
cinta suci murni abadi selamanya
Wakakakaka ...




No comments:

Post a Comment