Pages

Monday, February 15, 2016

Karena Menulis Itu Mudah



Muhammad karya Martin Lings, kata Yusuf Arifin a.k.a Dalipin, adalah buku terbaik tentang Rasulullah (salallahu ‘alaihi wassalam) yang pernah ditulis dalam bahasa Inggris. Dikatakan begitu oleh orang yang saya tahu gemar membaca dari dulu tentu membuat saya ingin membacanya. Apalagi perkataan Yusuf Arifin itu disampaikan kepada saya oleh AS Laksana yang saya tahu kuat bacaannya. Maka ketika ada yang menghadiahkan buku itu kepada saya sudah semestinya saya bergembira. Tetapi tidak.
Entahlah, mungkin kepongahan “uang bisa membeli segalanya” di balik pemberian buku itu, beserta dua buku how to how to, membuat saya memutuskan untuk memberikan buku-buku tersebut kepada mereka yang lebih perlu. Tentang buku Martin Lings itu, nantilah saya beli sendiri, kalau harga segitu saya masih sangguplah. Adapun mengenai buku how to how to, sejak menertawakan buku Dale Carnegie ‘Apakah Tuan Ingin Banyak Kawan’ saya tidak berminat membaca buku-buku model begitu, yang kebanyakan beraroma motivator. Sebetulnya saya tidak anti anti amat dengan buku how to, sejauh menyangkut masalah teknis seperti bagaimana menulis dengan baik atau bagaimana cara membuat kapal selam atau yang semacam itu maulah saya membacanya dengan senang hati.
Rupanya memang ada orang yang kalau tidak mendengki merasa tidak bermakna hidupnya. Tindakan saya memberikan buku-buku itu mengundang komentar bahwa saya menghina para penulis buku-buku tersebut. Sudah begitu masih bilang kasihan penulis-penulis itu karena membuat buku kan tidak mudah. Menghina? Siapalah saya ini berani-beraninya menghina Pak Abu Bakar Sirajuddin (nama hijrah almarhum Martin Lings) yang hebat itu? Kadang-kadang memang ada orang yang sebaiknya diklasifikasikan sebagai tumbuhan saja.
Mudah menulis buku itu. Karena menulis itu mudah. Bahkan bagi orang seperti Pak Sulak (sapaan anak-anak saya kepada AS Laksana) saya yakin menulis sama mudahnya dengan menyalakan sebatang rokok. Terlebih di era Google yang murah hati ini, menurut saya siapa saja bisa menulis hampir apa saja. Pada dasarnya pekerjaan pokok saya adalah menerjemahkan, dan penerjemah mutlak harus mempunyai kemampuan menulis, jadi kalau diminta menulis ya itu perkara mudah. Buku ini misalnya.
menulis itu mudah
Berhala Holocau$t

Asal datanya ada, mudah menulis buku, cukup menyajikan data dalam bahasa yang enak, jelas dan mudah dimengerti. Yang penting, bisa bercerita dengan baik dalam bentuk tulisan. Tentulah saya akan pontang-panting kalau disuruh mempelajari geologi dan segala yang terkait dengan kebencanaan. Tetapi karena bahan-bahan sudah disediakan lengkap dengan data pendukung, buku berikut saya selesaikan tak lebih dari dua pekan.
menulis itu mudah
Mitigasi: Menemukan Kembali Pengetahuan Kebencanaan Kita

Dua buku di atas saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa siapa saja bisa menulis hampir apa saja. Bahwa tak banyak yang bisa menulis bagus, memangnya kenapa? Dari ratusan ribu orang yang bisa membawakan lagu Ave Maria cuma Nana Mouskouri seorang yang mendulang sanjungan abadi di sana sini. Bahwa tak banyak penulis yang menghasilkan buku best-seller, ya karena menulis beda urusannya dengan pemasaran. Pemasaran buku melibatkan hal-hal ruwet selain tulisan bagus (atau tak bagus). Sampul yang memikat, tata letak yang menawan saja belum cukup. Ada yang namanya distribusi dan jaringan toko buku yang sering punya kebijakan tak menguntungkan bagi penerbit. Ruwetlah kalau dibahas. Yang mau saya katakan hanya: menulis itu mudah. Kalau bisa.



No comments:

Post a Comment