Pages

Monday, February 22, 2016

Holocau$t dan Kebebasan Berpendapat



Seorang menteri Perancis mengatakan, “Atas nama kebebasan kita boleh menertawakan apa saja.” Dia mengatakan itu menanggapi permintaan kaum Muslimin Perancis kepada pihak berwenang agar melarang pemuatan ulang karikatur yang menghina Nabi Muhammad. Atas nama kebebasan pula film The Da Vinci Code tetap beredar sekalipun dikecam para penganut Katolik. Seorang menteri perempuan Skandinavia terpaksa meletakkan jabatan karena menutup sebuah situs sehubungan dengan karikatur Nabi Muhammad. Tentu ini meneguhkan anggapan yang banyak diyakini bahwa dunia Barat (Eropa Barat dan Amerika Serikat) menganut budaya yang benar-benar mengagungkan kebebasan berpendapat. Tetapi persoalannya berbeda ketika yang disinggung adalah “holocaust”. Menyampaikan pendapat yang menggugat “holocaust” kepada khalayak tentu saja boleh asalkan siap diseret ke meja hijau atau dianiaya atau, lebih seram lagi, disudahi hidupnya. Diserang balik lewat tulisan dengan standar sesuka penyerang, dibunuh karakternya, disudahi kariernya, itu biasa.
Bahkan, mahasiswa yang lumrahnya, apalagi di Barat, didorong untuk menyelidiki secara kritis berbagai peristiwa sejarah, dihalangi ketika hendak menerapkan anjuran itu pada kasus “holokaus”. Mengangkat tema ini, kalau tidak sesui versi resmi sama saja dengan mencari penyakit.
holocaust hoax
The Holocaust Industry karangan Norman G. Finkelstein

Dalam The Holocaust Industry Profesor Norman Finkelstein mengatakan, “Kajian Holokaus penuh dengan omong kosong, kalau bukan kebohongan luar biasa ... Rabi Arthur Hertzberg menuding kedua belah pihak, mencela bahwa ‘ini bukan soal keadilan, ini soal uang’ ... Belakangan ini, industri Holokaus menjadi alat pemerasan yang efektif .... Sebagai mantra pemerasan kompensasi Holokaus, ini adalah perampokan terbesar dalam sejarah manusia .... Kalau setiap orang yang mengaku sebagai korban selamat itu mengatakan yang sebenarnya, ibu saya biasanya bertanya-tanya, ‘lalu siapa yang dibunuh Hitler?’”  Di Jerman, apa yang ditulis Finkelstein itu bisa mengundang para hakim pengadilan menjatuhkan vonis sekurang-kurangnya lima tahun penjara. Sedangkan di Austria penjara dua puluh tahun sudah menanti. Orang Jerman yang kedapatan menunjukkan sikap mendukung pemikiran Finkelstein itu pasti ditangkap. Di Perancis, negerinya Liberté, Egalité, Fretrnité itu, Roger Garaudy dipidana denda 40.000 dolar AS karena menulis buku yang mempersoalkan Israel. Daftar pemberangusan kebebasan pendapat ini bisa diperpanjang.
Selain konsekuensi fisik, mereka yang mempertanyakan “holocaust” akan menuai kecaman dari para penguasa, diserang dengan sengit oleh para intelektual pengabdi “holocaust” atau dipermalukan oleh Anti-Defamation League (of B’nai B’irth) di internet. Jika, meminjam kata-kata Mahmoud Ahmadinejad sebagaimana dikutip website BBC, “Orang yang menyangkal keberadaan Tuhan, atau para nabi dan agama” tidak jadi soal karena dilindungi prinsip kebebasan berpendapat, mengapa mempersoalkan “holocaust”, apalagi sampai menyangkal, bisa berakibat runyam begitu? 
Serangan balik para holocaustmania tidak main-main rupanya, serangan balik blitzkrieg mereka melibatkan semua divisi yang ada. Senjata yang mereka sandang bervariasi, jenis pelurunya sama: Anti-Semitisme, Anti-Israel, Anti-Zionis, dan Naziisme.
“Holocaust”, istilah yang penggunaannya saja sudah menimbulkan silang pendapat ini sudah lewat enam puluh tahun silam lebih. Dengan istilah lain seperti genosida, pembersihan etnis, pembantaian massal atau yang semakna dengan itu sesungguhnya sejarah kebiadaban manusia atas manusia lain sudah terjadi jauh sebelum Hitler berkuasa dan lama setelah Hitler menyudahi hidupnya di bunker. Tetapi, pemusnahan secara sistematis terhadap orang-orang pribumi Amerika tidak menimbulkan gonjang-ganjing jika ada yang menyangkalnya. Karena bangsa Indian itu belum dikeluarkan dari rumpun manusia sekalipun berkulit merah dan sejauh ini belum ada yang menyebut mereka sebagai bison atau kuda, misalnya, agak aneh juga mereka tidak ngamuk-ngamuk karena kurang diperhatikan dan bahkan sering digambarkan sebagai biadab dalam banyak film Barat. Anak-anak cucu mereka yang barangkali tinggal mewarisi seperdelapan darah bangsa hebat itu juga tidak terdengar segarang Anti-Defamation League berikut para intelektual penyokongnya. Bangsa-bangsa lebih mutakhir yang tertimpa malapetaka sama dengan bangsa Indian, misalnya, suku Tutsi di Rwanda, rakyat Kamboja, Vietnam, Bosnia, Indonesia, sekadar menyebut beberapa saja, rupanya senasib dengan pribumi Amerika itu. Penderitaan mereka kurang eksotis untuk menyulut perdebatan sengit berkepanjangan sebagaimana korban “holocaust” memicu perang propaganda. Barangkali karena orang Yahudi tersebar di mana-mana dan sentimen golongan mereka tinggi. Tetapi rasanya persoalannya lebih dari sekadar itu. Jadi, apa sebenarnya yang membuat “holocaust” begitu mirip berhala?
Di negeri kita pengaruh perdebatan seputar genosida Yahudi itu tidak terlalu terasa. Dan “holocaust”, setidaknya hingga saat ini, belum menjadi berhala. Berkat Mahmoud Ahmadinejad, sewakti menjadi presiden Iran, hiruk pikuk itu sampai ke sini. Saya baru memikirkan sungguh-sungguh kemungkinan versi lain dari tragedi besar abad kedua puluh itu setelah keriuhan itu pecah. Versi resmi seperti yang diajarkan di sekolah dahulu saya terima sebagai sesuatu yang memang begitulah adanya. Untuk tidak mengatakan bahwa saya tidak peduli. Setelah lumayan banyak membaca perang kata antara kubu exterminationist dan revisionis, barulah saya sadar bahwa pelajaran tentang genosida Nazi di sekolah dulu berpengaruh kepada saya. Sekalipun bisa menerima kemungkinan bahwa Buku Harian Anne Frank itu palsu karena ditulis dengan balpoin, yang belum dibuat pada masa hidupnya, di kepala saya masih bersemayam gambar menara penjaga di atas pagar kawat berduri yang menjadi ilsutrasi kisah Anne Frank di majalah yang saya baca saat masih di bangku SD, bukan Otto Frank yang menulis buku harian atas nama anak gadisnya. Setelah membaca argumen-argumen kubu revisionis yang banyak sekali itu, tetap saja di otak saya kata “holocaust” berdampingan tak terpisahkan dengan tentara SS, bukan korban penyakit atau kelaparan yang mungkin saja orang Gipsi, Slavia, atau Rusia. Di benak saya hanya ada orang-orang Yahudi yang menjadi korban kekejaman Nazi, susah sekali memasukkan orang-orang Slavia dan Rusia ke kepala saya. Apalagi orang-orang Gipsi yang malang itu, bangsa pengembara sejati yang selalu digambarkan buruk dan terlunta-lunta. Seingat saya yang baik kepada mereka cuma Tintin.
Di era media sosial yang oleh pendiri Facebook disebut sebagai era kebebasan hingga Facebook tidak sudi menutup akun-akun penghina Nabi Muhammad, bebas yang dimaksud tak berbeda dari pakem yang berlaku sejak dulu: bebas sejauh sejalan dengan kebijakan kami. Pernah ada seorang pengguna Facebook asal Pakistan mengeluhkan bahwa fan page yang dibuatnya ditutup hanya dalam hitungan hari sejak ditayangkan. Fan page Hitler. Kebebasan? Yang jelas, silang sengketa soal holocaust, yang juga disebut sho’ah oleh para aktivis zionisme, masih terus memakan korban.

Sumber gambar:

No comments:

Post a Comment