Pages

Monday, November 23, 2015

Kota Ho Chi Minh (Saigon)



Turun dari bus Khai Nam di dekat perempatan Jalan Nguyen Trai, dengan yakin saya mendekati perempatan karena ingat pernyataan seseorang di sebuah blog travelling (mungkin kata perjalanan itu dianggap sungguh ndeso), “Pham Ngu Lao Street tidak jauh dari pemberhentian bus.” Saya bertanya kepada seorang pembantu restoran yang menemani juru masak memanggang ikan di mana Pham Ngu Lao Street itu. Benarlah kata banyak orang betapa bahasa Inggris orang Vietnam di luar kawasan wisata sangat mengharukan. Dia hanya nyengir sambil menggerak-gerakkan tangan sebagai tanda tidak tahu. Ketika seorang bertampang pegawai bank yang mengenakan name tag hendak menyeberang, saya kejar dia dan menanyakan di mana Pham Ngu Lao Street. Masa ya pegawai bank nggak ngerti bahasa Inggris? Benar saja, dia menjawab, “Wah, jauh dari sini, lima kilometer ke sana, naik taksi saja” sambil menunjuk arah timur. Saya benar-benar berterima kasih kepadanya. Lima kilometer? Itu yang menulis blog paham tidak maksud dekat? Klaten memang dekat dengan Yogyakarta, daripada Maluku, tetapi kalau jalan kaki ya terima kasih banyaklah. Belakangan saya tahu bahwa bus antarkota dalam negeri memang berhenti dan menurunkan penumpang di Jalan Pham Ngu Lao, bukan dekat lagi. Persis di samping taman kota Pham Ngu Lao. Juga dekat kalau turunnya dari bus kota jalur 152 yang berhenti di Pasar Ben Thanh.
Perjalanan darat Malaysia - Vietnam
Taman Pham Ngu Lao, Kota Ho Chi Minh
Wisata Asia Tenggara
Pemberhentian bus di Jalan Pham Ngu Lao

Sambil menggerutu kesal dengan penulis blog yang infonya tak akurat itu saya terus berjalan ke timur menyusuri Jalan Nguyen Trai. Dan saya teringat perkataan Mazlan Zonan di PhnomPenh bahwa di bawah lima belas kilometer lebih baik berjalan kaki, mumpung masih muda (Dari pemberhentian bus di luar kota Siem Reap dia berjalan kaki ke pusat kota, sekitar 6 kilometer). Meski tak semuda Bung Mazlan, kalau cuma lima kilometer masih sangguplah saya. Mendadak saya tertawa getir teringat akun seorang gadis yang mem-posting meme berikut:
Perjalanan darat Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam
Slogan pelancong

Menyedihkan sebab di akun yang asli ... Tapi ya mau bagaimana lagi, ada orang yang hanya bisa bahagia dengan dusta permanen.
Sudah jauh rasanya berjalan dan belum tampak tanda-tanda kawasan turis dalam rupa bule-bule backpackers berkeliaran saya bertanya kepada seorang pemuda Vietnam yang berjalan searah dengan saya. Jawabannya: tidak tahu. Kenapa orang-orang Vietnam ini, masa ditanya daerahnya sendiri tidak tahu? Semangat saya tak jadi redup melihat dua bule yang sedang membaca buku panduan wisata. Saya tanya. Tidak tahu juga. Mungkin mereka turis kelas harum mewangi yang berwisata ikut paket agen perjalanan.
Di sebuah perempatan, saya lihat sepasang bule sedang asyik memotret segala macam. Saya tanya kepada bule perempuan yang tidak memotret. Jawabnya “I don’t know.” Saya tambahi pertanyaan dengan keterangan bahwa Pham Ngu Lao adalah kawasan di mana para backpackers mangkal, kawasan turis yang terkenal di Ho Chi Minh City itu lho. Jawab si ibu, “Je ne parle pas anglais.” Saya ulangi pertanyaan berikut penjelasannya itu dalam bahasa Prancis, lah dia malah melengos dan berlalu. Nggak ngomong Inggris apaan? Lha I don’t know itu emang bahasa Klingon? Sudah lama saya tahu tentang kepongahan sauvinistis orang Prancis terkait bahasa. Tetap terpana ketika saya mengalami sendiri. Teringatlah saya pada ibu direktur Goethe Institute (tahun 2007-an) Jakarta ketika mengomentari kecongkakan orang Prancis yang enggan menggunakan program komputer berbahasa Inggris, “Tapi memang begitulah orang Prancis.”
Saya kembali berjalan dengan ransel yang putus satu tali cangklongannya. Dari jauh tampak seorang pria jangkung bertampang anak benua India, saya tanya saja ketika kami berpapasan. Katanya sambil menunjuk ke arah timur, “Di sana ada pasar, nah di sekitar situlah banyak penginapan murah.” Alhamdulillah. Setelah mengucap terima kasih kepada pria anak benua itu saya mempercepat langkah. Benar saja, tak lama kemudian saya menjumpai papan nama ini di persimpangan jalan.
Perjalanan darat Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam
Simpang jalan Pham Ngu Lao

Gembira menjumpai papan nama Pham Ngu Lao, saya luput memperhatikan arah kanan di mana pasar yang ditunjukkan pria Asia Selatan tadi berada. Saya langsung menyeberang dan beranggapan itulah jalan Pham Ngu Lau yang tersohor. Tetapi tak satu pun hostel saya jumpai. Cuma ada satu hotel sungguhan sesudah saya menyusuri jalan kecil dengan kios-kios spanduk, vandel, stempel dan lain-lain berderet-deret. Sampai masuk gang-gang kecil tetap tak ada kawasan seperti yang saya bayangkan. Akhirnya saya melihat seorang bule yang sedang duduk menikmati es sari tebu. Kata-katanya adalah penawar letih karena berjalan kaki, lebihlah kalau lima kilometer saya rasa. “Percayalah padaku, Kawan. Aku lama tinggal di sini. Lurus saja, di seberang persimpangan itu ada pasar, banyak sepeda di depannya. Di belakang pasar itu banyak sekali penginapan murah. Jangan cari di sekitar sini, adanya hotel mahal-mahal” katanya diiringi tawa bersahabat. Berterima kasih, saya menjabat tangan lelaki Italia itu. Pham Ngu Lau, selain nama jalan, adalah nama distrik.
Yang pertama saya datangi adalah Saigon Backpacker Hostel, 8 USD semalam. Nanti dululah. Ada juga yang menawarkan harga 8 USD satu jam. Di Siem Reap saya diberitahu seorang pelancong Filipina bahwa di Kota Ho Chi Minh dia menginap di Eco Backpacker Hostel, tarif seharinya 4 USD, ada komputer dengan sambungan internet gratis pula. Karena sudah tak kuasa lagi berjalan mencari-cari, akhirnya saya memesan tempat tidur model asrama (dormitory) di Dormitory Guesthouse di Jalan Bu Vien. Dan tempatnya tidak menyenangkan, tarifnya 5 USD. Ketika saya mendapat email berisi permintaan untuk menulis ulasan tentang penginapan oleh tripadvisor, saya tulis saja betapa tidak menyenangkannya Dormitory Guesthouse ini. Dikelola oleh kaluarga yang mahal senyum, bahkan nanya password wifi saja diisikan oleh anak yang punya hostel. Sesuatu yang tidak lazim. Karena dikelola keluarga ya malam tutup meski ada keterangan check in 24 hours. Tentu saja ulasan saya tidak dimuat, beda dengan ulasan saya tentang OneStop Hostel Siem Reap yang memang dikelola secara profesional. Nggak paham juga saya dengan kebijakan tripadvisor, memangnya semua penginapan harus diulas penuh sanjungan?
Perjalanan darat Indochina
Dormitory Guesthouse

Bagaimanapun juga, hostel yang berada di lantai dua di atas toko Pizza Rex itu berada di lokasi strategis memang. Persis di depannya terdapat rumah makan Mumtaz. Dari namanya saya yakin menyediakan hidangan halal. Saya pun memesan nasi biryani. Cuma ketika makan agak heran juga melihat bule minum bir di meja lain. Selesai makan, iseng-iseng saya membuka menu: pork ini, pork itu ada juga ternyata. Lah, mana tahu masaknya tidak memakai wajan yang sama? Itu kunjungan pertama dan terakhir saya.
Setelah makan, saya mencari warnet. Di jalan yang sama dengan Dormitory Guesthouse ada biro perjalanan yang menyewakan komputer dengan koneksi internet. Tarifnya 25.000 dong satu jam. Mahal, sejam sekitar lima belas ribu rupiah. Saya mencari warnet lain sambil mencari di mana Eco Backpacker Hostel berada. Keluar masuk gang kecil-kecil antara Jalan Bu Vien dan Jalan Pham Ngu Lao akhirnya saya menemukan Eco Backpacker Hostel, besoklah saya pindah ke situ. Lalu di jalan yang paralel dengan jalan di mana hostel yang saya cari itu berada, saya menemukan warnet dengan tarif 10.000 dong perjam. Sekitar 6.000 rupiah itu. Boleh juga. Dan boleh merokok. Hore. Pekerjaan saya selesai di Saigon :D
Perjalanan darat dari Malaysia ke Vietnam
Eco Backbacker Hostel

Indochina
Warnet murah Pham Ngu Lao, Ho Chi Minh

Menjelang subuh saya pulang ke Dormitory Guesthouse dengan niat salat subuh di sana karena belum tahu di mana Musulman Mosque tepatnya berada. Penginapan itu masih tutup. Terpaksalah saya menunggu, mondar-mandir di jalan dan bertemu bule-bule pulang dari bersuka ria dengan botol-botol di tangan. Tak juga buka hingga matahari nyaris terbit, akhirnya saya salat di jalan. Tentu saja tayamum. Sekitar pukul setengah sembilan saya baru masuk ke penginapan, tidur-tidur ayam, mandi, lalu check out sebelum jam sebelas siang.
Di gang kecil di dekat Eco Backpacker Hostel saya singgah di Taj Mahal Restaurant. Saya sangat menyukai rumah makan sederhana milik Pak Malik Muhammad Zaman ini. Selain kehalalannya meyakinkan, banyak hal menarik saya jumpai di sana. Misalnya orang-orang Pakistan yang berdebat dengan orang-orang India soal pertumbuhan ekonomi negeri mereka masing-masing. Orang India yang berkeras mengatakan kepada saya bahwa pusat Jama’ah Tabligh itu di negaranya. Para pengusaha Arab yang berunding sambil makan.
Meski bernama Taj Mahal, sebetulnya pemilik rumah makan ini orang Pakistan.
Travelling Indochina
Taj Mahal Restaurant

Perjalanan darat Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam
Rumah makan Taj Mahal

Travelling Indochina
Rumah makan Pakistan di Vietnam

Menjelang sore saya memesan tempat di Eco Backpacker Hostel, berbeda dari informasi yang daya peroleh dari turis backpacker Filipina di Siem Reap, tarifnya 6,5 dolar AS semalam. Tak apalah, saya ingin tidur beneran. Tidak berminat berjalan-jalan, saya duduk-dukuk saja di depan hostel. Mengobrol dengan tukang ojek yang menawari ganja, pijat plus-plus, dan hal-hal lain yang buat apa saya lakukan di negeri jauh. Kalau mau begitu di negeri sendiri juga melimpah hahaha. Berbagi cerita dengan backpacker Kanada yang energik, juga memperhatikan mbak-mbak resepsionis yang cakep ketika menggunakan bahasa Inggris dan menjadi aneh ketika bercanda sesama mereka dalam bahasa Vietnam. Saya jadi teringat kata Hari Prabowo teman saya yang pernah punya cerita dengan gadis Vietnam. Kata dia, “Ayu-ayu, ning nek ngomong kaya wong ketekak (Cantik-cantik sebetulnya, cuma kalau bicara persis orang tercekik). Ada-ada saja hahaha. Bagaimanapun juga, ketika menggunakan bahasa Prancis, mereka luar biasa. Ya tapi mungkin saja orang asing punya pandangan serupa terhadap gadis cantik Jawa ketika berbahasa Jawa.
Saya tidak memperpanjang masa menginap meski pesawat saya baru berangkat keesokan harinya. Saya berniat membuktikan keterangan seseorang yang menuliskan di blog pengalamannya tidur di Bandar Udara Internasional Tan SonNhat. Sehabis check out, saya kembali makan di Taj Mahal. Begitu masuk pelayan (yang tampaknya masih keluarga pemilik) mengucap “Assalamu alaikum.” Mestinya saya yang salam karena masuk tempat orang. Mungkin karena saya tidak terbiasa mengucapkan salam ketika masuk ke rumah makan milik orang Islam. Kepadanya saya tanyakan di mana masjid terdekat. Dia bilang di samping Hotel Sheraton. Saya pernah membaca tulisan di blog berbahasa Inggris bahwa orang harus tinggal di Kota Ho Chi Minh minimal tujuh hari untuk menumbuhkan rasa cinta bagi kota yang juga disebut Saigon ini. Saya tidak mau tinggal di kota ini selama itu sekadar untuk menghayati kehidupan masyarakat Saigon khususnya dan Vietnam pada umumnya. Saya tak punya romantisme semacam itu. Beda orang beda kepala memang. Tetapi, makan di restoran Taj Mahal inilah barangkali hal yang paling mengesankan bagi saya di Kota Ho Chi Minh.
Kemudian saya berjalan kaki menyusuri taman Pham Ngu Lao menuju Pasar Ben Thanh untuk membelikan istri saya sandal. Kesalahan besar menyuruh saya belanja mengingat saya tidak bisa menawar harga :D Tapi ya lumayanlah, sandal yang ditawarkan 250.000 dong diturunkan menjadi 100.000 dong. Tampaknya orang Malaysia biasa berbelanja ke pasar ini, para pedagang umumnya menawarkan dagangannya kepada saya dalam bahasa Melayu.
Perjalanan darat Kuala Lumpur - Ho Chi Minh
Pasar Ben Thanh, Kota Ho Chi Minh

Hujan turun cukup deras. Setelah reda, saya berjalan ke timur mencari Kantor Pos Saigon untuk membeli suvenir-suvenir yang dijual dengan harga pas.
Jalan-jalan Asia Tenggara
Patung Paman Ho

Wisata Ho Chi Minh City
Katedral Saigon

Jalan-jalan Kota Ho Chi Minh
Kantor Pos Besar Saigon

Jalan-jalan Indochina
Kantor Pos Besar Saigon

Jalan-jalan Indochina
Kantor Pos Besar Saigon

Keluar dari kantor pos sentral Ho Chi Minh saya berjalan kaki ke selatan (arah kiri dari kantor pos) mencari masjid Musulman yang terletak di sebelah timur Hotel Sheraton. Setelah berjalan cukup jauh, sampai juga akhirnya. Hujan turun lagi. Lebih deras daripada yang tadi. Ketika hendak mengambil air wudlu, seorang turis bertanya di mana letak kamar kecil. Saya tunjukkan, lalu dia bilang, “syukran.

Jalan-jalan Vietnam
Masjid Musulman Kota Ho Chi Minh

Wisata Vietnam
Pemberitahuan dalam tiga bahasa
Wisata Asia Tenggara daratan
Tempat wudlu Masjid Musulman

Wisata Vietnam
Mimbar masjid sesuai sunnah

Setalah hujan reda, saya keluar masjid menuju pangkalan bus kota di Ben Thanh. Berjalan bersama si musafir yang tadi juga salat di Musulman Mosque, saya tanya dari mana dia dalam bahasa Arab. Cuma dalam beberapa langkah kami bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Orang Aljazair itu berpindah menggunakan bahasa Inggris. Barangkali dia iba dengan bahasa Arab saya yang kacau balau :D Sampai di Ben Thanh kami bersalaman dan mengucapkan selamat berpisah, saya ke pangkalan bus, dia kembali ke hotelnya.
Di banyak blog yang saya baca, ongkos bus kota 152 dari Pasar Ben Thanh ke bandara adalah 6.000 dong. Ketika saya menyerahkan uang sejumlah itu, si sopir mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Dia menunjuk-nunjuk uang. Akhirnya saya keluarkan uang 20.000 dong. Ternyata saya harus membayar 10.000 dong, walaupun karcisnya tertulis 5.000 dong.
Jalan-jalan Asia Tenggara
Karcis bus jalur 152

Saya tanya turis Cina di bangku belakang berapa dia bayar. 12.000 dong. Katanya karena membawa tas besar. Padahal ya ransel kami normal-normal saja. Begitulah.


No comments:

Post a Comment