Pages

Wednesday, November 25, 2015

Pertarungan Ideologi (III)



Ekonomi politik merkantilis awal tegas menekankan sentralitas politik. Ekonomi tidak dipisahkan dari konteks politiknya, justru dipandang sebagai sarana penting untuk meningkatkan kekuatan negara. Negara harus kuat untuk menerapkan proteksionisme guna menopang surplus neraca pembayaran dalam rangka meningkatkan suplai uang dan menstimulasi perekonomian. Pandangan yang mengutamakan politik ini mendominasi pemikiran ekonomi politik sebelum munculnya pemikiran Adam Smith, terutama pada abad keenam belas dan ketujuh belas. Meski telah kehilangan vitalitasnya, pandangan merkantilis masih mendominasi kebijakan-kebijakan ekonomi pada masa hidup Smith. Penerimaan terhadap paham ini bisa dimengerti secara sosiologis mengingat ia berkembang bersamaan dengan kebangkitan negara modern. Kendati demikian, pandangan ini mulai menjadi anomali yang membingungkan.
Para teoretisi liberal mendefinisikan ulang ekonomi politik. Dengan berfokus pada logika dan konsekuensi kegiatan ekonomi, mereka menggoyahkan teori merkantilis. Kaum liberal generasi awal tidak sepenuhnya memisahkan eknomi dari politik, sesuatu yang sering dilakukan para ekonom neoklasik kontemporer. Mereka memahami bahwa kebijakan ekonomi dimasuki oleh kepentingan-kepentingan partikularistik. Kendati demikian, kaum liberal berpandangan bahwa pembangunan ekonomi dan transformasi ekonomi tidak bisa dicapai apabila kepem-kepentingan politik yang mengakar terus mengganggu kekuatan pasar. Lagi pula, jika pasar dibiarkan berfungsi secara bebas, kepentingan politik yang lebih luas sebagian besar, jika bukan seluruh, masyarakat akan bisa dilayani dengan lebih baik. Dengan demikian liberalisme membalik rumusan merkantilis dan menganjurkan bahwa pertimbangan ekonomi pada akhirnya dapat menyelesaikan konflik-konflik kepentingan.
Adam Smith (1723–1790), yang dikenal luas dengan bukunya berjudul The Wealth of Nations, adalah pemikir paling terkemuka dalam mengkritik ortodoksi merkantilis dan menciptakan pendekatan baru bagi pemahaman ekonomi politik. Sebagaimana disampaikan di atas, meski kehilangan vitalitasnya teori merkantilis masih mendominasi kebijakan ekonomi pada masa hidup Smith (bahkan masih berlanjut lama sesudahnya), oleh karena itulah harus mengawali langkahnya dengan mengkritik habis-habisan merkantilisme. Pemikiran Smith, yang langsung menusuk jantung persoalan dengan menganalisis sifat kekayaan, oleh George T. Crane dan Abla Amawi diuraikan secara ringkas sebagai berikut.
Bagi Smith kekayaan bukan hanya sebuah fungsi dari jumlah emas dan perak dalam perbendaharaan negara. Kekayaan justru mengalir dari kapasitas produktif umum suatu perekonomian. Kekayaan nasional, dan dengan demikian juga kekuasaan, hanya bisa meningkat melalui pertumbuhan ekonomi menyeluruh. Untuk mewujudkan tujuan ini, negara tidak boleh mengintervensi pasar. Perolehan produktif memperoleh jaminan terbesar dari orang-orang egois rasional mengejar secara leluasa kepentingan-kepentingan material individu. Pada tataran internasional perolehan-perolehan produktif semacam itu tidak mesti bersifat zero-sum. Jika imbalan produktivitas inheren suatu pasar bebas diperbolehkan menyebar ke seluruh dunia melalui perdagangan bebas, kemakmuran semua bangsa akan terjamin.
Smith menjabarkan lebih lanjut landasan pemikiran bagi perdagangan bebas. Pada tataran dalam negeri, produksi yang efisien dan kemakmuran bertumpu pada pembagian kerja dan interdependensi ekonomi. Prinsip-prinsip ini berlaku juga pada perekonomian dunia: “apa yang baik dilakukan dalam setiap keluarga, hampir mustahil tidak baik dalam kerajaan besar.” Persis seperti agen-agen pemerintah tidak bisa mengelola secara efektif ribuan hubungan kait-mengait perekonomian nasional maka negara pun tidak boleh campur tangan dalam pasar dunia. Jika ditempatkan dalam sebuah perekonomian nasional yang tidak diatur, setiap negara akan mendapatkan sebuah ceruk produktif, sebuah keuntungan absolut atau komparatif. Pembagian kerja dapat, dan harus, direplikasi secara global. Meski begitu, Smith bukan penganut pandangan optimis tak realistis. Dia mafhum bahwa kepentingan-kepentingan tertentu, terutama pedagang, diuntungkan oleh proteksionisme dan akan bertarung untuk mempertahankan keuntungan yang mereka nikmati. Tetapi kepentingan-kepentingan spesifik ini jangan dikelirukan dengan kepentingan nasional yang lebih luas, yang dilayani dengan lebih baik oleh kemakmuran yang mengalir dari perdagangan bebas.
Smith tidak mengusung perdagangan bebas unilateral dan tanpa syarat. Dia mengajukan empat kualifikasi bagi argumennya. Pertama, perdagangan bebas bisa dibatasi oleh pertimbangan mendesak keamanan nasional. Smith bersimpati dengan Undang-Undang Navigasi dalam hal ini: “regulasi komersial Inggris paling bijaksana.” Kedua, bea harus dipungut atas barang-barang impor setara dengan pajak domestik atas produk-produk nasional guna menghindari penawaran yang terlalu menguntungkan bagi impor. Ketiga, bea bisa diberlakukan sebagai tindakan balasan terhadap pembatasan tidak wajar di pasar luar negeri tetapi hanya sebagai cara memaksa negara-negara lain untuk membatalkan bea yang mereka terapkan. Akhrinya, perdagangan bebas harus dilaksanakan secara bertahap sehingga industri dan tenaga kerja domestik mempunyai waktu untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan terhadap kompetisi internasional yang bertambah sengit. Oleh karena itulah Smith melunakkan argumennya dengan pemahaman tentang praktik merkantilis yang berlaku dan realitas politik domestik.
David Ricardo (1772-1823) bertumpu pada, meski kemudian menjauhi, pandangan Smith. Ricardo juga memandang adanya kepentingan-kepentingan politik di balik kebijakan-kebijakan ekonomi yang ada. Bedanya, Smith menentang para pelaku bisnis merkantilis, sedangkan Ricardo memandang tuan tanah lebih merusak bagi kemajuan ekonomi. Pertimbangannya terkait erat dengan konsep sewa, upah, dan laba. Menerima pengertian Thomas Malthus tentang sumber daya yang terbatas (satu dari sedikit hal yang disepakati dua orang yang berteman ini), Ricardo memperkirakan meningkatnya harga pangan yang akan menaikkan sewa untuk para tuan tanah. Harga pangan yang lebih mahal juga menyebabkan naiknya upah, merongrong laba yang diperoleh borjuasi yang sedang tumbuh. Keuntungan yang diraih tuan tanah adalah kerugian bagi industrialis. Tanpa laba yang memadai para pelaku bisnis tidak dapat menanam modal dan pembangunan perekonomian akan mengalami kesulitan. Pasar dunia menawarkan cara mengatasi hambatan pertanian bagi pembangunan. Maka Ricardo pun membuka bab-bab tentang perdagangan luar negeri dalam Principle of Political Economy and Taxation dengan diskusi tentang hubungan dagang dengan laba dan upah domestik. Perdagangan luar negeri menguntungkan secara nasional sejauh memberi sumbangan untuk menurunkan upah, yang pada gilirannya memberi peluang bagi peningkatan laba.
Bagaimanapun juga, untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya negara harus berkonsentrasi pada keunggulan komparatif. Contoh terkenal Ricardo tentang tekstil Inggris dan anggur Portugis menjadi dorongan kuat bagi spesialisasi ekonomi berdasarkan biaya komparatif dan pasar dunia yang terbuka. Dia cukup cermat dalam membangun argumen ini berkenaan dengan masalah ketimpangan pembayaran internasional. Dia mendapati bahwa kekuatan-kekuatan moneter tidak mengancam keunggulan komparatif berkat mekanisme arus uang logam yang mengoreksi diri sendiri (pendahulu teori kuantitas uang). Jika ada cacat dalam argumen yang panjang umur ini, barangkali itu adalah asumsi modal tidak bergerak dan tenaga kerja, kondisi-kondisi yang berubah dalam era korporasi transnasional dan transportasi modern.
Bagi Ricardo, perekonomian internasional tidak sama dengan perekonomian dalam negeri. Suatu perekonomian nasional dibatasi oleh oleh keterbatasan sumber daya dan konflik kepentingan; perekonomian dunia menawarkan jalan-jalan potensial pertumbuhan dan ekspansi. Dia tidak memperhitungkan terjadinya penyusutan global, sebuah kemungkinan yang sangat kecil pada masa hidupnya. Ringkasnya, meski berbeda dalam metodologi—teori abstrak Ricardo sangat bertolak belakang dengan gaya naratif Smith—mereka sepaham mengenai hasil-hasil positif perdagangan bebas.6

Demikianlah, tentu saja ini penafian (disclaimer), tulisan ini di-posting dengan tujuan membantu siapa saja mendapatkan kutipan-kutipan berikut sumbernya. Sehingga wajar jika tulisan ini tidak ketahuan ke mana arahnya dan tidak tuntas. Ini memang bukan pekerjaan yang sudah selesai. Setiap paragraf yang dilengkapi dengan catatan kaki bisa dipakai sebagai bahan tulisan dengan rujukan sumber yang dicantumkan. Hal ini saya lakukan karena kesal sering mengalami kesulitan mencari sumber rujukan dalam tulisan yang diunggah di Internet. Yang sering terjadi ketika saya copy paste beberapa kalimat dan menempelkannya ke kolom pencari Google, ketahuan bahwa kalimat-kalimat yang tidak disebutkan sumbernya, dengan demikian tampak seperti karya asli si pengunggah tulisan, tak lain adalah karya orang lain. Lebih celaka lagi, asal kalimat-kalimat itu adalah tulisan di blog (blogspot maupun wordpress) yang juga tidak mencantumkan sumbernya. Semoga bermanfaat. Salam.

Catatan:
1.   Chaim Potok, Wanderings: Chaim Potok’s History of the Jews, Fawcett Crest, New York, 1980, hlm. 1,19.
2.   Charles Le Gai Eaton, Islam and the Destiniy of Man, The Islamic Texts Society, Cambridge, United Kingdom, 2005, hlm. 29,31.
3.   Michel Beaud, History of Capitalism,  Monthly Review Press, New York, 2001, hlm. 13-15.
4.   Ibid.
5.   George T, Crane & Abla Amawi (ed), The Theoretical Evolution of International Political Economy, Second Edition, Oxford University Press, New York, 1997, hlm. 5.
6.   Michel Beaud, History of Capitalism,  Monthly Review Press, New York, 2001, hlm. 17.
7.   Ibid., hlm. 41.
8.   Ibid., 42, 43.
9.   George T. Crane dan Abla Amawi (ed), The Theoretical Evolution of International Political Economy, Oxfor University Press, New York, 1997, hlm. 55-57. 


evolusi teori ekonomi politik internasional

Pertarungan Ideologi II



Pertarungan Ideologi (I)

Apa yang disebut sejarah Barat “penemuan-penemuan besar” memasuki pertemuan dinamika ganda ini: pada tahun 1487 Bartholumeus Diáz mengitari Tanjung Harapan; pada tahun 1492 Christoper Columbus menemukan Amerika; pada 1498 Vasco da Gama, setelah mengitari Afrika, tiba di India. Perburuan besar mencari kekayaan—perdagangan dan penggarongan –dimulai.
[...]
Menyusul kembalinya Columbus dengan laporan tentang Dunia Baru, Dewan Castile menetapkan untuk memiliki sebuah negeri yang penduduknya tidak mampu membela diri. “Tujuan religius untuk mengkristenkan mereka membenarkan ketidakadilan proyek ini. Tetapi harapan untuk menemukan harta karun emas di sana, adalah satu-satunya motif yang mendorong mereka melakukan itu ... Semua usaha lain orang Spanyol di dunia baru itu, menyusul usaha-usaha Columbus, nampaknya didorong oleh motif yang sama. Itulah kehausan keramat akan emas ...” Hernán Cortéz, penakluk Meksiko, mengakui: “Kami bangsa Spanyol menderita penyakit jantung yang hanya bisa disembuhkan dengan emas .”
Pada tahun 1503 pengapalan pertama logam mulia tiba dari Antilles; pada tahun 1519 penjarahan harta bangsa Aztec di Meksiko dimulai; pada tahun 1534 giliran bangsa Inca di Peru digarong. Di Peru,
para conquistadores menggasak 1.300.000 ons emas sekali angkut. Mereka menemukan empat patung besar llama dan selusin patung wanita terbuat dari emas murni. Raja menawarkan tebusan seruangan penuh emas: di taman, rumah dan kuil mereka, rakyatnya punya pohon, bunga, burung dan hewan dari emas, perkakas dapur mereka terbuat dari emas; lempengan perak sepanjang dua puluh kaki lebar dua kaki setebal dua jari dijadikan meja.4

Dalam periodisasi teori ekonomi politik masa yang merentang dari abad keenam belas hingga sembilan belas ini disebut era pemikiran merkantilis.
Merkantilisme, menurut Jacob Viner, adalah sebuah doktrin regulasi negara yang ekstensif terhadap aktivitas ekonomi demi kepentingan perekonomian nasional. Secara lebih tegas Eli Heckscher mengatakan bahwa merkantilisme menundukkan semua aktivitas ekonomi pada kepentingan negara atas kekuasaan. Bertumpu pada realisme politik Thucydides, Machiavelli, dan Hobbes, kaum merkantilis berpendapat bahwa jika otoritas formal tidak mengekang pemenuhan kepentingan-diri, tampaknya hasil yang akan muncul adalah “keadaan alami” yang brutal. Oleh karena itulah para pemikir merkantilis meyakini pentingnya otoritas publik menerjemahkan kepentingan-kepentingan individual ke dalam kebaikan universal. Analisis mereka lebih terfokus pada kolektivitas daripada individu; memaksimalkan kekuasaan negara dan kemakmuran adalah sarana terbaik memastikan kesejahteraan publik. Yang menjadi raison d’etat adalah prinsip ekonomi sentral, dan kepentingan negara adalah yang menentukan perekonomian dalam teori merkantilis.
Bagi kaum merkantilis generasi awal, kekayaan melekat dalam jumlah absolut emas atau perak yang disimpan dalam perbendaharaan publik. Karena kedua logam itu merupakan aset nyata kekuasaan negara, pemerintah campur tangan dalam perekonomian dalam negeri maupun internasional untuk memaksimalkan kepemilikan koin-koin tersebut. Di dalam negeri, intervensi besar-besaran dilakukan dalam bentuk konsolidasi perekonomian nasional dan penghimpunan pendapatan yang lebih efektif. Pada tataran internasional intervensi dilakukan dalam bentuk proteksinonisme, kontribusi berumur panjang merkantilisme bagi kamus ekonomi politik internasional. Kondisi neraca perdagangan dianggap sebagai unsur sentral perimbangan kekuasaan internasional. Sebuah negara harus menjaga neraca surplus perdagangan, mempertahankan arus masuk koin emas dan perak, guna mendukung posisinya dalam sistem internasional negara-negara dengan kepentingan masing-masing. Sejauh kaum merkantilis memandang pertarungan ekonomi-politik dunia ini sebagai zero-sum game, segala daya harus dikerahkan untuk melindungi perekonomian nasional.5
Di Spanyol, sejak awal abad keenam belas, ekspor emas dan perak diancam dengan hukuman mati; di Perancis mengekspor uang koin dilarang pada tahun 1506, dilarang lagi tahun 1540, 1548 dan 1574; di Inggris, dua usaha, pada tahun 1546 dan 1576, untuk menempatkan peredaran uang, bahkan perdagangan surat utang, di bawah badan-badan pemerintah menemui kegagalan.
Lalu, menjelang pertengahan abad, banyak beredar tulisan-tulisan yang menyerukan dilakukannya tindakan-tindakan lain:
Dengan menghentikan impor barang buatan luar negeri, dan yang bisa dibuat di suatu negara; dengan membatasi ekspor bahan mentah berupa wool, kulit binatang, dan produk-produk lain; dengan mengontrol kota, para perajin yang sekarang tinggal di luar kota yang memproduksi barang-barang untuk ekspor; dengan menyelidiki barang-barang tersebut.

Jean Bodin mendukung kebijakan yang sama dalam Le Republic (1576), dia menyerukan dibangunnya banyak kilang dan larangan ekspor bahan mentah. Raja-raja Spanyol, Perancis, dan Inggris menempuh kebijakan dalam arah ini: membangun kilang; monopoli atau privilese diberikan bagi produk-produk baru; pelarangan, atau penetapan tarif bagi,  masuknya barang-barang luar negeri: pelarangan ekspor bahan mentah. Pembentukan  persatuan nasional menyaksikan permulaan sebuah pasar nasional.6
Pada penghujung “perjalanan panjang” beberapa abad menuju kapitalisme ini, modal, dipandang sebagai sebuah relasi sosial dominasi bagi penghisapan nilai lebih, belum muncul dalam bentuknya yang matang. Dan hanya dalam kaitannya dengan perkembangan selanjutnya yang lebih utuh kita bisa berbicara tentang “modal bunga” [capital usuraire], “modal komersial”, “kapitalisme pedagang”, bahkan “kapitalisme manufaktur”.
Dalam formasi sosial Eropa di mana kapitalisme berkembang, sarana utama untuk menghisap kerja-lebih masih bersifat “upeti”: berbagai macam rente muncul dalam aneka bentuk dialirkan dari para petani bagi kaum bangsawan, Gereja, dan kerabat istana.
Selain itu terdapat peningkatan aliran kemakmuran dari penjarahan harta kekayaan Amerika, pemerasan kerja-lebih dari perdagangan budak Afrika, pengembangan produksi tambang dan pertanian di Amerika yang bergantung pada kerja paksa atau perbudakan—eksploitasi brutal bangsa Afrika dan Amerika.7
Yang harus diingat dalam segala hal adalah pentingnya negara dalam kelahiran, awal mula, kapitalisme; ini juga terkait dengan karakter nasional pembentukan kapitalisme: tidak ada kapitalisme tanpa borjuasi, yang berkembang dalam bingkai negara-bangsa bersamaan dengan kebangkitan bangsa-bangsa. Dalam batas-batas ini tenaga kerja yang diperlukan bagi perkembangan kapitalisme diciptakan, dibentuk, dan diadaptasi dengan progresifnya. Akhirnya, demi kapitalisme yang mendominasi, demi borjuasi yang berjaya, cakrawala geografis aktivitas adalah seluruh dunia: adalah dalam skala dunia kapitalisme memperoleh tenaga kerja dan bahan mentah yang dibeli, dijual, dan dijarah.
Sejak dari mula, kapitalisme bersifat nasional dan global, kompetitif dan monopolistis, liberal dan terkait dengan negara. Selaku kekuatan transformatif, kapitalisme pada tahapan ini belum terlihat benar. Peradaban-peradaban Eurasia utama nyaris tidak terpengaruh oleh perubahan-perubahan yang melanda Eropa Barat. Namun jelas bahwa berbagai peradaban Amerika terdahulu dihajar habis-habisan oleh para penakluk yang menyeberangi Atlantik. Dan selama periode itu masyarakat Afrika dibelenggu oleh menghebatnya perdagangan budak. Meski begitu dalam perkembangan-perkembangan tersebut sukar membedakan kebangkitan semangat kapitalisme dari hasrat akan perolehan dan keuntungan, haus kekayaan, dan nafsu menaklukkan.
Di Eropa sendiri, yang merupakan faktor transformatif utama adalah negara. Persatuan nasional, standardisasi mata uang, koherensi yuridis, keperkasaan militer, dan permulaan sebuah perekonomian nasional; semuanya diciptakan dan dikembangkan oleh negara, atau negara berfungsi sebagai pengorganisasi utama. Kemajuan ilmiah dan teknis juga memegang peran di sini—dalam pelayaran dan persenjataan, dalam arah yang lebih progresif, dalam produksi manufaktur dan pertanian.
[...] selama periode itu kedua struktur yang mengorganisasi yang memberi koherensi bagi dunia modern—negara dan merkantilisme—mulai mewujud. Negara mengkonsolidasi dari sebagai kekuasaan dan penggerak proyek-proyek atas nama kepentingan suatu kelompok nasional. Merkantilisme, dan bangkitnya arti penting hubungan-hubungan berbasis uang, pada pergantian abad ketujuh belas oleh North dan Boisguilbert dengan cara masing-masing. Tetapi periode itu jugalah yang memproduksi Thomas More dan, kini, kita tidak bisa membaca peringatan serius More selain sebagai firasat: “Di mana uang menjadi ukuran segala sesuatu ... keadilan dan kemakmuran hampir mustahil ada.” 8

ekonomi politik internasional

Pertarungan Ideologi (I)



When I turn to Bible, I discover that my ancestor’s name was Abraham. He appears to have come from the city of Ur in southern Mesopotamia. He left the sedentary world of Ur—the first civilization created by man—and became a wanderer.
— Chaim Potok

Semua anak yang dididik dalam tradisi tiga agama besar dunia, Yahudi, Kristen, Islam, pasti hafal kisah Nabi Ibrahim meninggalkan Mesopotamia (kini Irak) menuju tanah Palestina dan menjadi leluhur sekalian nabi yang diimani para penganut ketiga agama samawi tersebut. Tetapi pemahaman bahwa kepergian nabi pertama yang diakui keberadaannya secara arkeologis itu terkait dengan persoalan sumber daya tentu hanya dimiliki orang-orang dewasa, sebagaimana terlihat dalam uraian berikut.
“Ia mengembara ke utara melalui Assiria, lalu ke barat lewat Syria, dan ke selatan masuk Palestina menyusuri lengkung tak rata hamparan tanah yang sebagian besar subur yang dibatasi pegunungan di sebelah utara dan timur serta gurun pasir di selatan. Selama musim kelaparan, ia menyusuri lengkung itu hingga ke ujung baratnya, Mesir, lalu kembali ke Palestina. Lengkung bumi hijau itu dinamai Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent) oleh sarjana Amerika bernama James Henry Breasted.”1
Dalam upaya memenuhi kebutuhan akan sumber daya, manusia menempuh berbagai macam cara seperti perdagangan, yang sering ditopang dengan perang, atau perang itu sendiri. Wilayah Bulan Sabit Subur yang kini disebut Timur Tengah itu tak pernah sepi dari kegiatan perdagangan dan perang. Dalam sejarah Islam sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kota kelahiran Nabi Muhammad dikenal karena perdagangannya. Bahkan sebelum diangkat menjadi nabi, Muhammad dikenal luas sebagai pedagang yang piawai. Janji Nabi Muhammad bahwa pedagang yang jujur akan mendapatkan tempat di surga bersama para syuhada bisa dipahami sebagai pemuliaan Islam terhadap perdagangan, yang dipandang rendah dalam beberapa keyakinan lain. Uraian Charles Le Gai Eaton berikut bisa menggambarkan betapa pentingnya peran pedagang dalam sejarah dan perkembangan Islam.
Selama Abad Pertengahan para sarjana, dai, dan pedagang Muslim menjelajahi seluruh dunia Islam yang membentang dari Spanyol hingga Indonesia dengan paspor kalimat La ilah illa ‘Llah. Perjalanan jauh mereka menjadi mudah berkat ajaran bahwa menunjukkan keramahan dan memberi bantuan kepada musafir adalah ibadah. Begitu jauhnya mereka bepergian hingga wajar jika ada yang bertanya-tanya sarana transportasi apa yang mereka gunakan kalau bukan karpet terbang yang legendaris itu.
Banyak pedagang Muslim yang bepergian melampaui batas Darul Islam. Seorang pedagang dari Kairo bisa menukar surat berharganya dengan uang tunai di Canton. Meski begitu mereka umumnya berusaha agar tetap berada di wilayah dunia beradab dan tidak mau mengambil risiko memasuki Eropa yang gelap—di mana hampir bisa dipastikan mereka akan dibunuh—walaupun mereka pasti tahu tentang wilayah itu dari para sarjana Eropa yang belajar di universitas-universitas Islam besar di Spanyol. Seorang penulis masa itu berpendapat, dengan niat baik yang tulus, bahwa orang kulit putih (bertolak belakang dengan anggapan umum saat itu) tak kalah cerdas dari orang-orang kulit hitam Afrika; tetapi secara keseluruhan Eropa pertengahan di balik pegunungan Pyrenees tampaknya merupakan daerah penuh kebejatan dan barbarisme.
Pada tahun 720 sesungguhnya pasukan Muslim sudah berhasil menyeberangi hambatan besar pegunungan Pyrenees dan seluruh Eropa Barat terbentang bagi mereka. Mereka dikalahkan oleh orang-orang Frank dalam sebuah pertempuran di daerah yang kini berada di antara kota Tours dan Poitiers, tetapi patut diragukan jika pertempuran ini dipandang menentukan, dan bagaimanapun juga sayap timur pasukan sudah menembus Valais di Swiss. Kemungkinan lebih besar yang menjadi sebab adalah hutan-hutan gelap di depan mereka sungguh tidak memikat; dan dingin menggigilkan negeri-negeri empat musim pastilah terasa seperti dinginnya kematian bagi mereka; dan sudah barang tentu gelombang besar ekspansi, saat itu, sudah kelelahan dan mencapai batas alaminya. Maju beberapa mil lagi pasukan itu dan ceritanya akan sangat berbeda, dengan seorang sultan duduk di singgasana Prancis, amirnya menempati istana di tepi Sungai Thames, dan anak cucu Eropa mendiami Amerika Utara di bawah panji-panji Islam.2
Pada tahun 1683 pasukan Utsmani mengepung Wina untuk terakhir kalinya, pasukan yang sudah kelelahan. Dunia Islam sudah berada dalam posisi bertahan selama bertahun-tahun menghadapi kekuatan Barat yang memiliki senjata api dan kapal-kapal yang lebih unggul. Dan pertahanan itu pun runtuh. Inggris menguasai India dan Belanda berkuasa di Indonesia. Sementara Rusia mengobrak-abrik kaum Muslimin di Balkan.
Adapun kebangkitan Barat melalui jalan kapitalisme diuraikan dengan jelas oleh Michel Beaud dalam buku A History of Captalism sebagaimana dikutip berikut:
Kapitalisme dibentuk dalam masyarakat pedagang dan moneter Eropa Barat. Sebetulnya banyak masyarakat pedagang dan moneter yang pernah ada di dunia, tetapi tidak berkembang menjadi bentuk baru kapitalisme ini, yang mempunyai kemampuan besar kreatif dan destruktif semacam itu.
Masyarakat feodal sudah mapan pada abad kesebelas; dalam kerangka estate, organisasi produksi (perbudakan, kerja paksa, korve) dan pemaksaan kerja berlebihan (dalam bentuk penyewaan tenaga kerja) dilakukan demi keuntungan seigneur, bangsawan tinggi pemilik tanah pemegang hak-hak prerogatif politik dan yuridis.
Kendati demikian, masyarakat feodal nyaris tidak mapan ketika proses kehancurannya bermula. Penyewaan tenaga kerja berubah menjadi penyewaan barang atau peminjaman uang, dengan perkembangan buruh bebas dan bentuk-bentuk kepemilikan petani. Berbarengan dengan itu terjadi pembaruan perdagangan lewat pekan raya niaga, pengaktivan kembali kelas artisan (dalam bingkai gilda), sebuah renaisans kehidupan perkotaan, dan pembentukan borjuasi niaga. Dalam pembusukan tatanan feodal inilah pembentukan kapitalisme merkantil berakar.
Selama satu periode beberapa abad “perjalanan panjang” menuju kapitalisme meluas ke arah ini: sebuah proses kompleks dan kait-mengait yang melibatkan formasi borjuasi saudagar dan perbankan, kemunculan bangsa-bangsa dan pembentukan negara modern, ekspansi perdagangan dan dominasi berskala global, perkembangan teknologi transportasi dan produksi, pemberlakuan mode baru produksi dan kemunculan sikap serta ide-ide baru.
Tahap pertama dari perjalanan panjang ini ditandai oleh penaklukan dan penggarongan Amerika (abad keenam belas), tahap kedua ditandai dengan kebangkitan dan peneguhan borjuasi (abad ketujuh belas).
Perang Salib merupakan peluang untuk menghimpun kekayaan luar biasa, yang paling mencolok adalah yang dilakukan Ordo Templar. Perdagangan, perbankan, dan keuangan mula-mula berkembang di republik-republik Italia abad ketiga belas dan keempat belas, selanjutnya di Belanda dan Inggris. Dengan ditemukannya mesin cetak, kemajuan dalam metalurgi, pemanfaatan tenaga air, dan penggunaan lori dalam pertambangan, peruh kedua abad kelima belas ditandai oleh kemajuan nyata dalam produksi logam dan tekstil. Pada masa itu meriam dan senjata-senjata api lainnya mulai diproduksi untuk pertama kalinya, sementara penyempurnaan dalam konstruksi kapal layar ringan bertiang dua dan dalam teknik-teknik navigasi memungkinkan dibukanya rute-rute maritim baru.
Modal, barang dagangan yang kian melimpah, kapal layar, dan senjata: inilah sarana ekspansi bagi perniagaan, penemuan, dan penaklukan.
Pada gerakan yang sama dan di atas landasan yang sama penghancuran tatanan feodal, monarki-monarki besar menggalang kekuatan melalui perkawinan, dan membangun imperium dan kerajaan dari penaklukan-penaklukan perang. Jauh sebelum persatuan nasional tercapai, negara-negara kuat bekerja keras untuk menggembungkan otonomi mereka dalam hubungannya dengan kepausan. Seruan bagi reformasi Gereja membuka jalan bagi gerakan Reformasi, yang menjadi mesin perang melawan Paus. Walaupun moralitas Abad Pertengahan mengagungkan harga yang jujur dan melarang peminjaman uang dengan bunga, moralitas ini sudah diporak-porandakan sewaktu Calvin menghalalkan perniagaan dan peminjaman dengan bunga, sebelum dia melangkah “untuk menjadikan keberhasilan perdagangan sebagai tanda pilihan ilahi.”
Raja-raja haus kebesaran dan kekayaan, negara-negara bertarung demi supremasi, para saudagar dan bankir terpacu untuk memperkaya diri: inilah kekuatan yang menggerakkan perdagangan, penaklukan dan perang; mensistemasi penjarahan; mengorganisasi perdagangan budak; dan mengerangkeng gelandangan guna memaksa mereka bekerja.3
sejarah kapitalisme
Michel Beaud, A History of Capitalism