Pages

Friday, March 4, 2016

Semit



Semit ini kata yang aneh, berdiri sendiri ia berarti anggota kelompok bangsa kuno di Asia barat daya yang meliputi orang Akkadia, Funisia, Ibrani, dan Arab. Kata benda dengan etimologi dari kata Prancis sémite, dari kata Semitik Shem, dari kata Latin Akhir, dari kata Yunani Sēm, dari kata Ibrani Shēm ini muncul pada tahun 1848. Tetapi ketika ditambahkan prefiks anti- dan menjadi anti-Semit artinya adalah permusuhan kepada atau diskriminasi terhadap Yahudi sebagai kelompok keagamaan, etnis atau ras (1882).
Secara umum dipahami bahwa Semit adalah orang-orang yang menggunakan bahasa Semit di Timur Tengah, termasuk orang Arab dan Yahudi, bangsa kuno Assiria, Babilonia, Kartago, Etiopia, dan Funisia. Menurut Perjanjian Lama mereka adalah keturunan Sem, putra Nabi Nuh (alaihissalam). Anak-anak Sem oleh orang-orang Abad Pertengahan dianggap sebagai leluhur kelas pendeta, kelas tertinggi. Putra Nuh yang lain, Yafet adalah moyang bangsa Eropa yang digariskan menjadi bangsa para tuan. Putra Nuh yang satu lagi, Ham menurunkan bangsa Afrika yang berperan sebagai, apalagi kalau bukan, budak.
Menurut para arkeolog pada zaman perunggu awal, kira-kira 3000 SM, sudah ada peradaban kota di Kanaan yang dihuni bangsa-bangsa berbahasa Semit barat. Dari tahun 2200 hingga 1900 SM kawasan itu didatangi berbagai suku pengembara. Pada tahun 1400 SM, setelah memukul mundur bangsa Hyksos, Mesir mendominasi kawasan itu. Para firaun Dinasti Kedelapan Belas menjadikan Palestina sebagai daerah perbatasan Mesir.
Kata Pastor Roland de Vaux, “Di luar Perjanjian Lama, kita tidak bisa menemukan rujukan eksplisit pada moyang bangsa Ibrani, kurun waktu ketika bangsa Yahudi tinggal di Mesir, atau penaklukan Kanaan.”
Pengertian Semit dan Anti-Semit yang dipolitisasi
Peta Fertile Crescent

Selama dua milenium sebelum Isa (alaihissalam) kawasan Fertile Crescent yang membentang dari sungai Nil hingga sungai Efrat sering didatangi suku-suku dari berbagai bangsa yang selanjutnya berasimilasi di sana. Ketika bangsa-bangsa nomad yang sedang berproses menuju kehidupan menetap melintas dari Mesopotamia atau Transyordania dan singgah di Kanaan, pada awal milenium kedua SM, mereka mendapati bangsa yang sudah lama mendiami daerah itu, bangsa Kanaan. Pada akhir milenium kedua bangsa Kanaan ini sudah menggunakan besi dan sudah mengenal tulisan.
Tidak seperti skema dalam Perjanjian Lama, orang Ibrani bukanlah suatu kelompok etnis tersendiri, sebelum orang nomad memasuki Kanaan. Mereka adalah himpunan yang terdiri atas berbagai kelompok etnis, dan merupakan salah satu unsur dalam migrasi orang nomad pada umumnya, orang Amori. Sebagian orang nomad itu menetap di Kanaan, sedangkan yang lainnya melanjutkan perjalanan ke Mesir. Kelompok yang menetap itu, di antara mereka terdapat kelompok yang kelak disebut Ibrani, mengadopsi bahasa, tulisan dan agama orang-orang Kanaan. Setelah orang-orang Hyksos menyerbu Mesir, orang-orang nomad yang menetap itu berangkat mencari padang rumput baru di Mesir.
Sewaktu tentara Hyksos didesak mundur dari Mesir, orang-orang yang tadinya ikut ke Mesir dan boleh jadi mendapat perlindungan dan menikmati privilese, dianggap sebagai antek Hyksos dan ditindas penguasa Mesir. Orang-orang yang oleh penguasa Mesir dianggap gangguan ini bukan merupakan kelompok etnis, melainkan kelompok yang memusuhi firaun dan dikenal sebagai Apiru atau Hapiru. Menurut R. de Vaux dari sinilah lahir kata hebrew atau Ibrani dalam bahasa kita. Orang-orang ini lalu kabur dari Mesir. “Eksodus” semacam ini tampaknya sering dilakukan para pendatang yang tidak puas sehingga tidak dianggap aneh. Karena itulah tarikh Mesir tidak menyebut-nyebut soal pengungsian orang-orang kecewa tersebut, bahkan para penjaga perbatasan pun malas mencatat dan melaporkan peristiwa lumrah itu.
Di luar Perjanjian Lama, keberadaan orang-orang Israel pada waktu itu sangat jarang disebut. Mengapa Israel dianggap tidak penting? Kemungkinannya, suku Israel hanyalah satu dari rombongan migrasi Amori yang tiba di Kanaan. Sedangkan Kanaan sudah lama dihuni oleh orang-orang Hitit (di sekitar Hebron),  Amon (di sekitar Amman), Moab (di timur Laut Mati), dan Edom (di sebelah tenggara). Masuknya mereka ke Kanaan boleh jadi dilakukan seperti yang digambarkan dalam Kitab Hakim-hakim, tidak seperti dalam Kitab Yosua yang dilukiskan sebagai gerak pasukan komando bantai sana bantai sini. Mereka masuk secara bertahap, dengan damai meski kadang-kadang dengan kekerasan, tanpa huru hara besar-besaran melawan kota-kota Kanaan yang kereta-kereta perangnya susah dilawan suku-suku tak terlatih.
Setelah orang-orang Israel menetap di Kanaan, kurang lebih pada abad ke-13 SM, barulah keterangan tentang bangsa Israel bisa dicari di luar Alkitab. Mereka membentuk konfederasi berbagai suku bangsa dari bermacam-macam etnis. Pada saat yang kurang lebih bersamaan dengan itu datanglah satu bangsa lagi dari kawasan Laut Aegea, bangsa Filistin, yang kemudian menetap di antara gunung Carmel dan gurun pasir. Diperkirakan mereka berasal dari Pulau Kreta, persenjataan dan perlengkapan mereka sudah terbuat dari besi. Nama bangsa inilah yang nantinya dipakai menyebut Palestina zaman kita, dari bahasa Arab Falastin. Mereka menyerap bahasa Kanaan, menyembah dewa-dewa Kanaan, dan dengan cepat menjadi orang Kanaan dalam segala hal kecuali cara bertempur mereka. Mereka datang ke kawasan itu sebagai sekutu Bangsa-bangsa Pelaut dalam menggempur Mesir. Ketika Mesir berhasil membendung gempuran mereka, banyak Bangsa Pelaut yang ditawan. Sebagian dari mereka lalu bekerja untuk Ramses III sebagai tentara bayaran. Sedangkan bangsa Filistin lari ke pantai Kanaan dan menetap di kota-kota yang sebelumnya mereka hancurkan saat menyerang Mesir. Kota-kota itu—Gaza, Askelon, dan Asdod—berada di bawah kekuasaan Mesir, tidak jelas benar apakah orang Filistin merebut kota-kota itu atau Ramses III membolehkan mereka tinggal di sana lewat perundingan atau persetujuan diam-diam penguasa yang kelelahan.
Pasukan Filistin menguasai wilayah-wilayah suku Israel pada masa Hakim Samuel. Mereka menaklukkan Yehuda di selatan, lembah Jezrel, dan beberapa bagian pegunungan tengah. Suku-suku Israel berusaha menahan laju pasukan Filistin. Terlibat dalam pertempuran singkat, kalah, dan membawa tabut dari kuil utama di Silo ke medan tempur, berharap YHWH akan membantu. Di dekat Afek, sekitar enam belas kilometer dari Jaffa, pasukan Filistin mencincang laskar serikat suku itu.

Rujukan:
Chaim Potok, Wanderings: Chaim Potok’s History of The Jews, Fawcet Crest, New York, 1980.
Kamus Besar Bahasa Indonesia elektronik KBBI v1.1
Merriam-Webster’s 11 Collegiate Dictionary elektronik
Roger Garaudy,  Kasus Israel; Studi tentang Zionisme Politik (diterjemahkan oleh Hasan Basari), Pustaka Firdaus, Jakarta, 1992.
Sumber gambar:

Thursday, March 3, 2016

Josemariá Escrivá de Balaguer dan Yahudi



Josemariá Escrivá de Balaguer dan Yahudi

Josemariá Escrivá de Balaguer, rohaniwan muda Spanyol yang menyepi di Biara Vincentian di Madrid, mendapat sebuah visi, yang memaparkan kepadanya kehendak Tuhan yang “utuh dan lengkap”. Saat itu 2 Oktober 1928, tanggal yang kemudian ditetapkan oleh para anggota Opus Dei sebagai tanggal lahir kelompok yang kelak didera berbagai kontroversi itu. Josemariá Escrivá dan para pengikutnya begitu meyakini bahwa organisasi mereka mengakar dalam kehendak Tuhan hingga Escrivá menyatakan, “Aku bukan pendiri Opus Dei. Opus Dei didirikan bukan olehku.” Pada mulanya Escrivá bahkan tidak memberi nama bagi realitas baru itu; “Opus Dei”, yang adalah bahasa Latin untuk “karya Tuhan”, berasal dari komentar spontan salah seorang jemaat Escrivá, yang bertanya kepadanya, “Bagaimanakah Karya Tuhan itu bekerja?” Itulah sebabnya para anggota biasa menyebut Opus Dei sebagai “Karya”.
Gagasan inti Opus Dei adalah pengkudusan kehidupan sehari-hari umat yang mengamalkan Alkitab dan ajaran Gereja seutuhnya. Oleh karena itulah simbol utama Opus Dei adalah salib bersahaja dalam lingkaran—simbolisme yang melambangkan pengkudusan dunia dari dalam: “menjadi seorang suci” bukanlah wilayah eksklusif segelintir atlet spiritual, melainkan takdir universal setiap orang Kristen. Kesucian bukan melulu, terutama juga bukan, untuk para pastor dan biarawati. Lebih jauh, kesucian bukanlah sesuatu yang terutama dicapai melalui ibadat dan disiplin spiritual, melainkan lebih melalui detail-detail duniawi kerja sehari-hari. Dengan demikian kesucian tidak mensyaratkan suatu perubahan dalam keadaan eksternal, melainkan sebuah perubahan dalam sikap, memandang dengan cara baru berkenaan dengan takdir spiritual seseorang.
Para pengagum Escrivá, termasuk Paus Yohanes Paulus II, yakin bahwa santo Spanyol itu sudah memperhitungkan “seruan universal pada kesucian” yang kelak diumumkan oleh Konsili Vatikan Kedua. Mendiang kardinal Florence dan tangan kanan Paus Paulus VI, Giovanni Benelli—yang bertikai dengan Escrivá selama bertahun-tahun—bahkan pernah mengatakan bahwa makna Santo Ignatius de Loyola, pendiri Jesuit, bagi Konsili Trent abad keenam belas, persis seperti makna Escrivá bagi Konsili Vatikan Kedua. Dengan kata lain, dia adalah santo yang menerjemahkan konsili itu ke dalam kehidupan Gereja.
Bagi internal umat Katolik kisah tentang Josemariá Escrivá de Balaguer (yang dikanonisasi pada 6 Maret 2002) di atas tentulah tidak asing. Di luar kalangan Gereja, Opus Dei jauh lebih terkenal daripada sang pendiri sampai-sampai organisasi ini menjadi ikon bagi sebuah perhimpunan rahasia dan tertutup dengan cita rasa elitis yang agak mirip Skull and Bond atau Freemason. Soal elitis itu tidak mungkin dijelaskan dalam tulisan ini, tetapi bahwa “pangsa pasar” Opus Dei dalam agama Katolik global hanyalah kecil memang begitulah kenyataannya. Menurut Annuaria Pontificio 2004, buku tahunan resmi Vatikan, 1.850 pastor Opus Dei di seluruh dunia bersama 83.641 umat menjadikan kelompok ini berkekuatan 85.491 orang, 0,008 persen dari populasi Katolik global yang berjumlah 1,1 miliar orang (55 persen anggota Opus Dei, asal tahu saja, adalah perempuan). Sekadar perbandingan, keuskupan agung Hobart di pulau Tasmania, Australia, beranggotakan 87.691 orang, artinya jumlah ini saja sudah lebih besar ketimbang keanggotaan Opus Dei seluruh dunia.
Jauh sebelum ribut-ribut tentang desas-desus konspirasional bahwa Opus Dei adalah penguasa dunia sesungguhnya dan popularitas global miring tentang Opus Dei melalui The Da Vinci Code, tak lama setelah lahir organisasi ini sudah mendapat tudingan anti-Semitisme. Tudingan yang dikaitkan dengan kenyataan bahwa hampir semua anggota generasi awal Opus Dei bergabung dengan Divisi Biru Spanyol yang berperang bahu-membahu dengan tentara Jerman di front timur melawan tentara Soviet. Sejarawan Spanyol Alfredo Méndiz, yang juga anggota Opus Dei, menepis tudingan itu dengan mengatakan, “Banyak pemuda Katolik idealis Spanyol, bukan cuma anggota Opus Dei, yang menjadi pasukan sukarela untuk memerangi kaum Bolshevik. Beberapa anggota Opus Dei, tidak semua, ikut bergabung, tetapi tak satu pun yang benar-benar berangkat ke medan perang. Biar bagaimanapun, yang mendorong orang Spanyol bergabung dengan Divisi Biru bukan anti-Semitisme atau kecintaan kepada Hitler, melainkan hasrat untuk melawan Stalin, yang dipandang sebagai musuh agama.”
Tudingan anti-Semitisme itu semakin gencar setelah Josemaría Escrivá mengatakan bahwa Hitler diperlakukan buruk oleh opini dunia sebab dia tidak mungkin bisa membunuh enam juta Yahudi. Menurut Escrivá paling banter Hitler cuma membunuh empat juta Yahudi. Pernyataan ini menyebabkan Josemaría Escrivá dimasukkan dalam daftar para santo anti-Semit oleh Jerusalem Post.
Apa boleh buat, pertikaian yang sering dirunut hinga Injil Matius 26: 59, “Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati” ini menyebabkan Gereja menjadi langganan favorit tuduhan anti-Semit. Selain Josemaría Escrivá de Balaguer, Jerusalem Post edisi 20 Oktober 2003 bahkan memasukkan Paus Pius IX, pastor Polandia Maximilian Kolbe dan Alojzije Stepinac, uskup agung Zagreb pada tahun 1940-an yang mendukung rezim pro-Nazi di Kroasia dalam kategori orang-orang suci anti-Semit bersama Santa Anne Catherine Emmerich.
Sudah umum diketahui bahwa Gereja dikatakan menumbuhkan anti-Semitisme tradisional terkait pengkhianatan Yahudi terhadap Yesus, tetapi yang jarang disebutkan adalah orang Yahudi tidak selamanya sengsara karena sentimen ini. Kalaupun orang Yahudi menderita di bawah kekuasaan Gereja, mereka juga tidak sendirian dalam hal ini. Misalnya, Konsili Lateran keempat pada 1215 mewajibkan orang Yahudi mengenakan pakaian khusus agar mudah dibedakan dari orang Kristen, ketentuan ini juga berlaku bagi orang Islam. Tetapi jangan dilupakan Konsili Tours, tahun 1236, konsili ini berisi ketentuan yang toleran terhadap Yahudi. Sebelum itu, ketika di Worms para petani yang mengamuk menewaskan delapan ratus Yahudi, menghancurkan sinagoga di Cologne, uskup agung setempat melindungi orang-orang Yahudi di kastilnya.
Tahun demi tahun berlalu, tentu ada gejolak di sana sini. Normal. Perang Reformasi berkobar, orang-orang Yahudi dibebani pajak untuk membiayai pasukan. Mereka juga menjual pakaian, menjadi pedagang keliling, dan lintah darat. Tidak ada yang istimewa, sama tidak istimewanya dengan para petani Ortodoks yang ditindas para penguasa Katolik Roma. Dalam konteks masa itu, ketika sentimen antaragama jauh lebih sengit ketimbang sekarang, pandangan Rabbenu Gershom, di negeri Kristen, mustahil disukai pejabat gereja yang mana pun. Sikap Gershom: karena mereka menyembah patung, menuhankan manusia, dan beriman pada Trinitas, mereka harus dipandang sebagai penyembah berhala. Tetapi karena orang Yahudi minoritas dan tidak bisa hidup tanpa bergantung pada orang Kristen, tanpa masuk ke rumah mereka, tanpa berskiap ramah kepada mereka, tanpa berjual beli dengan mereka, banyak hukum Talmud yang melarang berhubungan dengan orang pagan harus ditafsir ulang.
Mengenai pandangan Santo Josemaría Escrivá de Balaguer tentang Yahudi, dialog berikut menarik untuk direnungkan:
Penanya: “Bapa, saya orang Yahudi ...”
Escrivá: “Saya sangat mencintai umat Yahudi sebab saya mencintai Yesus Kristus habis-habisan, dan dia Yahudi. Saya tidak mengatakan bahwa dia sebelumnya Yahudi, tetapi sekarang pun dia Yahudi. Iesus Christus eri et hodie et in seacula. Yesus Kristus terus hidup dan dia Yahudi seperti Anda. Dan cinta kedua dalam hidup saya juga untuk orang Yahudi—Perawan Suci Maria, Ibunda Yesus Kristus. Maka saya memandang Anda dengan kasih sayang ....
Penanya: Saya rasa Anda sudah menjawab pertanyaan saya, Bapa.”

Rujukan:
Chaim Potok, Wanderings: Chaim Potok’s History of The Jews, Fawcet Crest, New York, 1980.
John Allen, Opus Dei, Penguin, 2006.
Kanonisasi Josemaria


Wednesday, March 2, 2016

Eksodus



Bangsa Hyksos menaklukkan Mesir sekitar tahun 1700 SM. Mereka berkuasa di Mesir selama seabad. Bangsa Mesir sedemikin malu ditaklukkan oleh bangsa yang mereka anggap gerombolan barbar lagi arogan itu sampai-sampai para penulis Mesir tidak mau mencatat periode kekuasaan bangsa Asia yang tidak adiluhung itu.
Sudah bisa dipastikan tidak terjadi perang, tidak ada invasi mendadak yang dilakukan kaum barbar dari ras apa pun seperti yang dikatakan Manetho. Manetho adalah seorang pendeta Mesir, yang menulis dalam bahasa Yunani pada abad 3 SM. Pendapat Manetho ini dikutip oleh Josephus.
Yang sebetulnya terjadi, orang-orang Asia yang sebagian besar atau semuanya punya nama Semit dan datang dari kawasan yang sekarang disebut Palestina, dengan imigrasi bertahap menyeberangi semenanjung Sinai menyusup ke Mesir dan menggunakan, sadar atau secara naluriah, teknik-teknik subversi, menyulut atau mengipasi perang antarkelas, perbedaan kedaerahan, memanfaatkan ketamakan atau ambisi orang-orang Mesir yang kecewa sampai negeri itu dibakar pergolakan revolusioner, terpecah-pecah di bawah penguasa-penguasa lokal, kebanyakan adalah penguasa boneka asli Mesir yang harus memasok upeti kepada para tuan-tuan Semit—contoh gamblang pertama penaklukan lewat imigrasi dan subversi.
Kita tidak tahu berapa banyak orang Asia di sana, juga sejauh mana subversi mereka di Mesir dilakukan dengan rencana yang terorganisir, sesuatu yang sudah jelas mengingat parasitisme naluriah mereka. Sangat boleh jadi sebagian dari mereka menyamar dengan nama-nama Mesir (misalnya saja, Ashley Montagu!), dan orang-orang “Hyksos,”  walaupun sangat fanatik dengan dewa tunggal mereka, sering pura-pura masuk agama asli Mesir.
Kebijakan pembauran begitu suksesnya hingga kita mendengar salah seorang penguasa boneka bangsa Asia itu, dianggap sebagai ahli waris seorang raja Mesir, bergelar Sang Hitam. Kehancuran genetis Mesir pun dimulai, walaupun Mesir, setelah pengusiran para penguasa Hyksos (walaupun ras itu pasti masih ada di Mesir), mengalami periode kebesaran imperial di bawah Dinasti Kedelapan Belas hingga naik tahtanya pada tahun 1379 SM seorang fanatik religius sinting Akhenaten yang, walaupun setidak-tidaknya dua kakeknya adalah orang Arya pirang, sebagaimana terlihat jelas dalam gambarnya, adalah peranakan!
Tidak ada identifikasi historis tentang orang Yahudi pada saat itu. Josephus berusaha menghubungkan sejarah Hyksos itu dengan kisah Yusuf dalam Perjanjian Lama (Kejadian 39-50), yang, tentu saja, cuma folklor yang ditulis jauh di kemudian hari. Meski begitu, bukan tidak mungkin bahwa berbagai peristiwa aktual mengilhami fiksi tentang seorang Yahudi yang masuk ke Mesir, mencapai kekuasaan puncak dengan cara licik (konon dengan bantuan dewa sukunya), memanfaatkan kebaikan seorang raja Mesir yang tidak diketahui namanya agar bisa mengimpor saudara-saudaranya, mengeksploitasi kegemaran takhayul raja bodoh itu, mengontrol seluruh negeri dan, bertindak atas nama raja yang dia kibuli, menimbun semua makanan dan uang di Mesir (lihat Kejadian 47:14-21), lalu membikin bangsa Goyim tolol itu kelaparan hingga mereka harus menukar ternak dan tanah mereka dengan makanan dan akhirnya menjual diri sebagai budak. Akhirnya Yahudi licik itu menggiring ternak curian mereka  ke bagian-bagian lain negeri itu untuk menghancurkan kesan yang barangkali tertanam dalam komunitas budaknya tentang bekas tetangga mereka.
Josephus, sejarawan Yahudi abad pertama Masehi tentunya mengeluhkan apa yang oleh rasnya sekarang disebut “anti-Semitisme” (baca: perlawanan terhadap dominasi terselubungnya), mengatakan apa yang dia pikir menimpa bangsa Goyim dan dia, sudah barang pasti, pemalsu dan pendusta. Pernyataan-pernyataannya tentang penaklukan Mesir oleh orang-orang Yahudi yang gagah perkasa harus dikesampingkan.
Kebudayaan Barat kita saat ini adalah produk Renaisans, dinamakan begitu karena sejak awal diyakini bahwa itu adalah kelahiran kembali zaman Klasik. Di seluruh bangsa beradab Eropa otak-otak terbaik ras kita langsung berpaling pada zaman Antik Yunani-Romawi sebagai model dalam sastra, seni murni, politik, filsafat, dan seni hidup. Mereka berusaha membangun masyarakat Eropa mengikuti teladan abad-abad keemasan Yunani dan Romawi.
Mereka [otak-otak paling cemerlang di bumi ini] hanya mengacu pada sebagian kecil kronologi sejarah yang mereka hargai sebagai klasik dalam arti sempit kata itu: puncak keemasan Athena di Yunani dan Roma pada akhir abad Republik dan periode Kaisar Agustus, yaitu kurun di mana peradaban pagan mencapai puncaknya. Menyangkut tumpukan sampah teologis yang dihimpun di Yunani maupun Latin sebelum jatuhnya Imperium Romawi, mereka tidak peduli, mereka juga menolak karya-karya non-Kristen selama dekadensi panjang Imperium Romawi.
eksodus menurut pandangan pendukung supremasi kulit putih
Eksodus dari Mesir

Benar, ini memang kisah tentang Bani Israil di Mesir pada masa Nabi Yusuf yang lalu meninggalkan Mesir berbondong-bondong di bawah pimpinan Nabi Musa yang sangat dikenal dalam tradisi tiga agama samawi, hanya saja uraian di atas adalah versi Revilo P. Oliver, profesor pada Jurusan Sastra Klasik Universitas Illinos sejak 1945 hingga pensiunnya pada1977. Revilo P. Oliver adalah cendekiawan ternama yang pernah menjadi anggota John Birch Society dan giat melakukan upaya pengungkapan holocaust. Pandangan-pandangan anti-Semit Oliver banyak dirujuk para white supremacists yang pada kenyataannya tidak hanya membenci Yahudi tetapi juga orang-orang kulit berwarna dari agama apa pun. Ajaibnya, kebanyakan pengagung supremasi kulit putih mengunggulkan nilai-nilai Kristen. Ajaib karena Isa putra Maryam atau Yesus Kristus menurut pemeluk Kristen adalah orang Yahudi. Tentu saja para sauvinis rasis tersebut punya berkarung-karung dalih untuk itu, bahwa dalih-dalih mereka tidak masuk akal dan lucu ya pandangan Oliver ini saja lucu kalau mau ditelaah sebentar.
Bahwa orang-orang Asia yang bermigrasi ke Mesir itu orang Semit memang benar. Tetapi kelewatanlah kalau dibilang barbar. Mereka orang Semit yang mudah menyerap kebudayaan Mesir. Mereka mengadopsi tulisan hieroglif. Raja-raja mereka menyandang nama Mesir. Mereka pedagang yang cakap, mengendalikan armada besar kapal dagang. Para arkeolog menemukan benda-benda dengan nama Hyksos di seluruh Timur Dekat.
Yunani adalah peradaban besar yang kuat pengaruhnya terhadap perjalanan kemanusiaan hingga kini sekalipun, itu tak perlu disangkal. Memang begitu adanya. Bahwa filsafat adalah mater scientiarum sudah menjelaskan dengan sendirinya. Pelajar mana di dunia yang pendidikannya, suka atau tidak, adalah Barat ini yang tak kenal nama-nama filsuf besar Yunani? Tetapi, sebetulnya, Yunani bukan cuma diwakili oleh Sokrates dan para filsuf pendahulunya, Plato, Aristoteles.
Kata tertua yang terekam dalam kesusastraan Eropa adalah kata Yunani kuno untuk menyebut amuk dalam Iliad karya Homerus. Teks asli kesusastraan itu bermula dengan kata yang berarti “amuk”, “murka” atau “amarah”. Emosi adalah hal pokok dalam kisah Homerus tentang Perang Troya, sepuluh tahun pertikaian di mana orang-orang Yunani mengorbankan, membunuh, menyiksa, memperkosa, membikin cacat, dan memperbudak satu sama lain. Orang-orang yang dibakar amuk itu hidup dalam zaman heroik, atau Homerik, di tepian imperium-imperium besar kuno zaman itu.
Selain pernah dihuni para ksatria Homerik yang mendasarkan hidup pada bisikan para dewa, Yunani juga sarat dengan ritual magis dan penyembahan jimat, para peramal setengah gila dan tukang sihir, para dukun keliling dan orang-orang penganut ritual yang mencabik-cabik hewan dan anak-anak lalu dimakan. Menurut Chaim Potok, “Tidak hanya mengitari peradaban Yunani, irasionalitas menembus hingga ke jantungnya. Selama tiga ratus tahun terakhir peradaban yang menaungi manusia Barat adalah paganisme modern, atau humanisme sekuler—sekuler karena ia meninggalkan yang supranatural, humanis karena penekanannya pada kajian-kajian klasik, atau humanitas, dan pengagungannya pada pengetahuan ilmiah dan keunggulan individu. Boleh jadi inilah peradaban yang paling kreatif, paling membebaskan, paling kaya, paling merendahkan manusia, dan paling berdarah-darah dalam sejarah spesies kita. Di antara yang paling menderita karena eksesnya adalah orang Yahudi. Ironisnye, orang Yahudi membantu membentuk peradaban payung ini.”
Pertarungan yang bermula dari kawasan Laut Tengah ini belum berakhir hingga kini dalam berbagai bentuk. Pertarungan berebut siapa lebih unggul itu dirangkum dengan jitu oleh Chaim Potok:
“Alpha dan beta hanya nama huruf dalam bahasa Yunani, aleph dan bet adalah nama huruf dalam bahasa Semit yang juga berarti sapi dan rumah.”


Rujukan:
Oliver, Revilo P., The Enemy of Our Enemies, Liberty Bell Publications, Reedy, West Virginia, 1991.
________________, Christianity, Religion of the West, bisa dilihat di http://www.heretical.com/miscella/oliver1.html
Potok, Chaim, Wanderings: Chaim Potok’s History of The Jews, Fawcet Crest, New York, 1980.
Weatherford, Jack, The History of Money, Crown Publisher, Inc. New York, 1997.

Sumber gambar:

Tuesday, March 1, 2016

Sine – Slogohimo – Yogyakarta



Dari Sine terus saja ikuti jalan utama (satu-satunya) ke Ngrambe. Sampai perempatan Ngrambe dengan lampu pengatur lalu lintas yang lebih sering matinya terus saja. Terus saja, papan petunjuk arah cukup jelas di waktu malam sekalipun, sampai tugu pertigaan Pasar Jogorogo ambil kanan. Terus saja ikuti jalan itu sampai Kendal. Lepas Kendal, mulai tikungan Cekok Mondol, jalanan didominasi tanjakan cukup tajam, terus saja sampai ke Panekan (sudah masuk wilayah Magetan). Dalam peta tempat-tempat yang disebutkan itu posisinya sebagai berikut:
Jalur alternatif Yogya Sragen Ngawi Magetan Wonogiri Yogya
Sine, Ngrambe, Jogorogo, Kendal

Sampai di Panekan ada perempatan dengan lampu pengatur lalu lintas, ikuti saja penunjuk arah menuju Sarangan. Terus ikuti ruas jalan Magetan – Sarangan itu sampai ke Polsek Plaosan ambillah jalan ke kiri, tepat di depan polsek. Ikuti jalan lebih kecil tersebut, dibutuhkan kehati-hatian melewati jalan naik turun di lereng Gunung Lawu. Jika malam hari, selain kehati-hatian diperlukan juga nyali. Di beberapa tempat hingga Poncol dan Bulukerto, gelapnya minta maaf.
Jalur dari Sine ke Slogohimo
Panekan - Plaosan - Poncol - Bulukerto

Sampai di perempatan Bulukerto, ambil jalan lurus, ikuti jalan yang (belum lama ini) rusak parah dan menyulitkan bagi pengendara mobil. Bagi pengendara motor menyulitkan juga tapi bisalah menertawakan mobil yang beringsut layaknya cikar sapi. Terus saja ikuti jalan itu sampai bertemu pertigaan di SPBU Slogohimo. Jika mau melanjutkan perjalanan ke Ponorogo ambil kiri, untuk kembali ke Yogyakarta ambil kanan, terus saja sampai Wonogiri kota, mentok di pertigaan kota ambil kanan, ikuti jalan itu sampai Terminal Wonogiri. Di samping terminal ada papan petunjuk arah Jalur Alternatif ke Yogyakarta. Ikuti saja jalan itu sampai ke pertigaan Cawas (Klaten) lalu ambil kiri mengikuti jalan itu seperti dalam Prambanan – Ngawi I hanya saja dengan arah terbalik menuju Yogyakarta. Selamat berkelana, terutama bagi Anda yang menjadikan perjalanan adalah tujuan itu sendiri.
Jalur alternatif Bulukerto Wonogiri Cawas Wedi Prambanan Yogya
Bulukerto - Slogohimo - Wonogiri - Weru - Cawas

Mohon dimaklumi jika untuk perjalanan kali ini cuma bisa menyajikan peta-peta yang saya ambil dari alamat-alamat situs di bawah, saat itu sudah malam dan hp saya bukan jenis yang dilengkapi lampu kilat. Lagi pula, dahulu ketika menempuh perjalanan dari Yogya menyusuri pesisir selatan DI Yogyakarta lalu masuk Wonogiri dan masuk ke Jawa Timur via Bulukerto - Plaosan pada tahun 1997 matahari belum terbenam dan, tentu saja, saya masih muda perkasa lagi terampil mengendalikan motor, sedangkan beberapa pekan lalu saya nyaris jatuh ke jurang berkali-kali di jalur Plaosan – Bulukerto karena gelap dan tak hafal jalan. Hahaha. Sudah begitu, jalan antara Bulukerto hingga pompa bensin Slogohimo aduhai rusaknya, tidak kepikiran memotret petunjuk arah sekalipun kadang-kadang ada penerangan jalan.
Sumber gambar: