Pages

Friday, November 6, 2015

Semalam di Malaysia



Dari ketinggian pesawat tampak asap hutan terbakar di Pulau Sumatra. Bukan pemandangan untuk dinikmati. Sebentar kemudian pesawat mendarat di bandar udara KLIA2 tepat pada waktunya mengakhiri dua jam penerbangan dari Yogyakarta. Di bandara ini berjajar pesawat-pesawat yang sebagian terbesarnya adalah Air Asia. Memang di sinilah rumah Air Asia.
Turun dari pesawat, para penumpang harus berjalan cukup jauh untuk keluar, tentunya setelah menyelesaikan proses keimigrasian. Sore itu, pukul 15.30 waktu Malaysia (pukul 14.30 WIB), antrean di loket pemeriksaan paspor imigrasi Malaysia panjang mengular. Beberapa orang diminta masuk ke ruangan lain karena urusannya panjang. Petugas perempuan menanyakan ke mana tujuan saya, saya jawab ke KL Sentral. “Encik mau ke mana?” Saya bilang mau ke mau Hat Yai dan melanjutkan perjalanan ke Saigon. Dia bertanya lagi, “Bila sampai Saigon?” Begitu percakapan ringan ini usai, dan sidik jari saya diambil, dia menyerahkan paspor saya. Sikap dan air mukanya tidak sedingin petugas kita di bandara Yogyakarta. Mungkin karena kami sama-sama punya nama depan Noor. Hehe ...
Selesai urusan cap paspor dan pemeriksaan barang bawaan, saya menyusuri bandara penuh toko dan restoran layaknya mal itu untuk mencari tempat salat (musala) yang lazim disebut surau di Tanah Malaya. Tidak sulit menemukan surau, karena tanda-tanda di bandara KLIA2 ini semuanya serba jelas. Yang sulit adalah menemukan orang salat berjamaah. Saya pikir kebiasaan salat sendiri-sendiri meski ada banyak orang hanya lumrah di Indonesia. Ketika melihat ada yang mengumandangkan iqamah saya jajari orang itu untuk menjadi makmum. Orang itu agak kaget sambil berucap, kurang lebih, “Nah, begitu.”
Usai salat jamak qasar ta’khir dzuhur dan asar saya mencari angkutan ke KL Sentral. Begitu bertemu boks penjualan tiket angkutan umum keluar bandara, saya tanya tiket ke KL Sentral, petugasnya menjawab, “25 ringgit”, mahal, setara dengan sekitar Rp78.700. Tiket KLIA Ekspres, kereta komuter cepat yang hanya berhenti di KLIA dan langsung melesat ke KL Sentral. Sebetulnya ada bus yang jauh lebih murah, tetapi dalam perjalanan kali ini sejauh memungkinkan saya mengutamakan kereta api. Petugas yang menjual tiket tampaknya memprioritaskan harga termahal, sebab selain KLIA Eskpres ada juga KLIA Transit untuk mencapai KL Sentral dari KLIA2. KLIA Transit menempuh jalur persis sama dengan KLIA Ekspres, bedanya ia berhenti di setiap stasiun.

 
dari KLIA2 ke KL Sentral
Salah satu stasiun antara KLIA2 dan KL Sentral

     Sampai di KL Sentral saya langsung mencari tempat untuk memesan kereta api ke Hat Yai. Di sini pun tanda-tanda dengan dua bahasa (Melayu dan Inggris) sangat jelas, sehingga loket pembelian tiket KTM bisa ditemukan dengan mudah.
Sebelum membeli tiket kita harus mengambil nomor antrean terlebih dahulu di gerai sebelum deretan loket pemesanan tiket. Lalu para pembeli dipanggil ke loket yang sudah ditentukan.

Naik kereta api dari KL hingga Aranyaprathet
Loket-loket tiket Kereta Tanah Melayu di KL Sentral


Benar kata penulis sebuah blog bahwa selain dengan pemesanan online, tiket bisa didapat langsung (on the spot). Saya mendapat tiket ke Hat Yai seharga 58 MYR (sekitar Rp182.600) untuk kereta Express Peninsular yang akan berangkat pukul 00:30.
perjalanan darat Asia Tenggara
Tiket Express Peninsular Kuala Lumpur - Hat Yai


Ada waktu sekitar tujuh jam sebelum kereta api ke Hat Yai berangkat, saya gunakan saja waktu selama itu untuk mencari warnet yang kata seseorang dalam blognya dekat dengan KL Sentral. Saya ikuti petunjuk penulis blog itu untuk menemukan warnet (internet cafe) di dekat hostel Central Lodge. Begini bunyi arahannya: “Ikuti saja para penumpang yang turun di di KL Sentral, traffic light pertama nyebrang, maju dikit. Di Jalan Abdulsamad, Tun  Sambathan 4 ada Central Lodge, di sebelahnya ada warnet.” Gampang. Masalahnya ada banyak penumpang yang turun di KL Sentral yang menyeberang di JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) di Mal KL Sentral, mengikuti petunjuk di blog tersebut, sesampai di perempatan lampu merah saya menyeberang dan maju dikit. Tetapi tidak ada apa-apa selain jalanan penuh lalu lintas dan trotoar yang sepi sehabis hujan. Saya melangkah terus berharap di antara gedung-gedung tinggi yang terlihat itulah warnet yang saya cari berada. Makin sepi saja jalanan, hanya ada kendaraan melesat tanpa jeda. Akhirnya saya belok kanan dan sampailah saya di kawasan Little India. Setelah berputar-putar di kawasan Little India Brickfield hingga lutut serasa mau copot, saya singgah di 7 Eleven untuk membeli Coca Cola. Melepas penat, saya minum di depan mini market itu sambil melihat-lihat keadaan sekitar. Nah, ternyata hostel Central Lodge itu berada di seberang jalan. Aduh, kenapa si penulis blog tidak bilang saja, “Perempatan lampu merah belok ke selatan (atau ke kanan dari arah KL Sentral), di seberang Sevel itulah Central Lodge berada, ada warnet di sampingnya.” Tadi saya sudah melintas di kawasan ini saat adzan maghrib berkumandang dan saya makan di rumah makan Al Husen. Saya makan nasi lemak seharga 8 MYR (sekitar 25.000 rupiah, kemahalan kata  teman mengobrol saya di KL Sentral, di sekitar stasiun paling cuma 2 MYR atau 6000-an rupiah). Dan warnet itu sudah tidak ada. Maklumlah, blog yang saya baca  itu ditulis dua atau tiga tahun silam. Yah, tak apalah, setidak-tidaknya saya pernah menelusuri Little India tanpa sengaja. Haha.
Sekitar pukul sembilan malam saya kembali ke KL Sentral, mencari surau dan menjamak ta’khir salat Maghrib dan Isya. Lalu duduk-duduk saja di ruang tunggu KTM yang sama sekali tidak terkesan tempat menunggu kereta. Cuma kursi berderet-deret di tengah kepungan toko-toko mal. Baru ketika kereta yang dimaksud datang para penumpang dipanggil agar turun ke lantai bawah melalui Gate A (atau B tergantung ke mana tujuan Anda). Saya mencari steker (colokan) untuk mengecas hp, dan mengobrol dengan seorang laki-laki muda warga Malaysia yang hendak pulang ke Kuala Kangsar. Kami satu kereta ternyata, hanya saja dia mengambil gerbong biasa sedangkan saya memesan gerbong sleeper
Kereta api Kuala Lumpur - Hat Yai
Sabar menanti (KL Sentral)

Di tengah kami mengobrol tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa “Karena masalah teknikal, kereta api Express Peninsular ....”. Intinya keberangkatan ditunda pukul 03.00, bagi penumpang yang tidak bersedia melakukan perjalanan karena penundaan ini, dipersilakan menukarkan tiket untuk diganti penuh sesuai harga. Tidak ada gerutuan, apalagi teriakan, protes. Padahal penundaan semacam itu sangat jarang (kata teman mengobrol saya yang saya lupa siapa namanya itu. Di Bangkok baru saya tahu alasannya, di wilayah selatan Thailand ada perbaikan rel kereta api.) Pukul 03.00 (kurang lebihnya) terdengar pengumumanan bahwa kereta tiba dan para penumpang diminta turun ke peron melalui Gerbang A.

harga tiket kereta api Kuala Lumpur - Hat Yai 2015
Rangkaian gerbong Express Peninsular tujuan Hat Yai


Susah memang model stasiun begini untuk memotret lokomotif, karena gerbong saya dekat dengan eskalator dan lokonya jauh di depan sana. Saya menempati berth bawah nomor 38. Tak lama setelah karcis diperiksa kondektur, saya tertidur.

 
Perjalanan dengan kereta api Malaysia dan Thailand
Tempat tidur yang nyaman untuk perjalanan panjang

Catatan:
-      -  Keterangan di blog (termasuk yang Anda baca ini) bisa berguna bisa juga tidak, bisa juga keliru, para penulis blog masih manusia juga, yang punya banyak keterbatasan. Kumpulkan informasi sebanyak mungkin dan, ini jauh lebih penting, banyak bertanya di jalan.
-      - Dari KLIA2 ke KL Sentral tersedia berbagai moda transporasi, ada kereta api komuter, bus bandara dan taksi. Yang paling murah (katanya) bus.
-       - Di KL Sentral terdapat stasiun MRT dan monorail untuk berkeliling Kuala Lumpur.
-      - Tiket kereta api ke Thailand (via Butterworth atau langsung Padang Besar) bisa dipesan secara online di situs KTM atau easybook. Saya sendiri beli di tempat, tak punya kartu kredit soalnya.
-     -   Colokan listrik di Malaysia (seperti di Singapura) berkaki tiga.
-      -   Ada beberapa penginapan murah di selatan KL Sentral, Central Lodge adalah salah satunya.
-    - Jika Anda perokok yang tidak tahan tak merokok terlalu lama, keluar saja ke tempat penurunan penumpang taksi (terlihat dari ruang tunggu KTM), banyak orang mengerumuni tempat sampah tahan karat untuk merokok. Jangan merokok di lain tempat itu. Dendanya besar.
-        -  Catatan sebelumnya: Menimbang Perjalanan, catatan berikutnya: Padang Besar.

Wednesday, November 4, 2015

Menimbang Perjalanan



Sewaktu googling mencari tahu adakah kapal penumpang dari Malaysia Timur ke Malaysia Semenanjung saya mendapati situs Mark Smith yang mengampanyekan perjalanan tanpa penerbangan. Kata Pak Smith, “... but flying is not a real traveling. [...] Any travel agent will recommend you to fly fly fly and fly.”  Pemilik situs www.seat61.com ini memang menakjubkan dedikasinya di bidang perjalanan tanpa penerbangan, khususnya kereta api. Maklumlah, Pak Smith ini pegawai jawatan kereta api di negeri Inggris sana. Di situs web-nya dia menguraikan secara terperinci tentang seluk beluk perkeretaapian di seluruh dunia, tak terkecuali uraian detail tentang perjalanan dengan kereta api di Indonesia. Perjalanan darat dengan kereta api dan bus di Asia Tenggara digambarkan dengan sangat jelas, hingga cara membeli tiket dan berbagai tips lainnya. Bahkan, untuk tujuan yang tidak ada kereta api atau bus, misalnya dari Bali ke Australia, disediakan keterangan dari blog milik orang yang bepergian dari London ke Australia tanpa penerbangan. Tentu saja harus dengan kapal laut. Tetapi karena zaman kapal penumpang sudah lewat, blog tersebut mengisahkan pengalaman penulisnya menyeberang Singapura ke Batam dengan perahu cepat (speedboat) yang disambung dengan kapal PELNI dari Batam ke Jakarta, lalu diteruskan dengan kereta api hingga Banyuwangi, menyeberang Selat Bali dengan feri, dan Benoa ke Australia dengan menumpang yacht. Pak Smith mengomentari sarana transportasi laut kita yang tidak menggembirakan, bahkan jadwal kapal Pelni di internet pun tidak bisa diandalkan. Dia benar.
Karena tidak ada kapal laut yang memungkinkan saya melakukan perjalanan tanpa penerbangan menyusuri Kalimantan – Filipina – Malaysia Timur, Malaysia Semenanjung keinginan saya untuk memulai perjalanan dari Semarang naik kapal ke Pontianak dan seterusnya saya urungkan. Sebetulnya pernah ada kapal cepat dari Pontianak ke Kepulauan Riau, tetapi baru dua kali beroperasi langsung dihentikan karena sepi penumpang. Di situs-situs pelancong tanpa penerbangan sebetulnya ada penjelasan tentang bepergian dengan kapal kargo, yang bisa saya pilih untuk menuju Manila dari Jakarta. Tetapi biaya sehari 100 USD itu menyurutkan niat saya sesurut-surutnya.  
Tampaknya perjalananan darat dan laut keliling Asia Tenggara daratan seperti yang dipaparkan Pak Smith mengasyikkan juga, dan masuk akal ongkosnya. Saya tidak menentang kontribusi tinggi emisi karbon pesawat terbang segigih para flightless travellers. Menentang atau menghindari penggunaan sesuatu karena pertimbangan ideologi belum masuk dalam prioritas saya sebagai warga dunia ketiga, tetapi saya menyepakati pandangan mereka: “Apa yang bisa dinikmati dari perjalanan dengan ketinggian 35.000 kaki?”
Saya putuskan untuk menempuh perjalanan dengan tujuan perjalanan itu sendiri. Saya bukan penggemar tempat wisata memang. Perjalanan saya akan dimulai dengan kereta api (bisa Taksaka, Argo Dwipangga, Senja Utama, atau Fajar Utama) menuju Jakarta. Di ibu kota republik ini saya hendak memenuhi janji bertemu teman-teman lama dan menjaga relasi dengan beberapa penerbit yang memberi saya pekerjaan secara lepas (freelance). Beberapa hari kemudian saya akan naik bus antarkota antarprovinsi (rencananya Lorena, karena saya hafal di mana letak pool-nya) dari Jakarta ke Jambi. Dari Jambi naik travel ke Tembilahan untuk mengunjungi paman yang sudah puluhan tahun tak saya jumpai. Dari Tembilahan naik kapal cepat ke Batam, menjumpai teman asal Banyubiru, Widodaren, Ngawi, Jawa Timur yang menjadi guru di sana. Lalu menyeberang ke Johor Bahru untuk bersilahturahim dengan sepupu yang bekerja di sana. Dari Johor saya akan mengawali perjalanan darat dengan kereta api hingga Aranyaprathet, lalu menyeberang perbatasan Thailand dan Kamboja dengan tuk-tuk dan bus. Sesampai di Siem Reap kemudian menyusuri Sungai Mekong dengan kapal cepat ke Phnom Penh. Dari Phnom Penh ke Kota Ho Chi Minh (d/h Saigon) perjalanan dilanjutkan dengan bus kembali. Dari Ho Chi Minh, dengan pertimbangan sudah letih menempuh perjalanan darat, saya akan naik pesawat ke Singapura dan dilanjutkan dengan pesawat lagi ke Yogyakarta. Pesawat terbang tetap bukan untuk musafir sejati bagi saya, tetapi itulah cara tercepat untuk pulang. Sayangnya rencana ini tidak sepenuhnya terlaksana. Tidak selamanya perjalanan darat lebih murah dari perjalanan dengan penerbangan. Kecuali Anda fanatikus Garuda yang tidak mau naik maskapai selainnya, apalagi maskapai untuk kaum “kere”. Berikut perhitungan saya.
Tiket kereta api Senja Utama dari Yogyakarta ke Jakarta sekitar 280 ribuan, tiket bus Jakarta – Jambi sekitar 500 ribuan. Jambi – Tembilahan ongkosnya 110 ribuan dengan travel. Kapal cepat dari Tembilahan ke Batam tiketnya sekitar 590 ribuan. Dengan kapal cepat, ongkos ke Johor Bahru dari Batam sekitar 250.000 atau 300.000 rupiah. Biaya makan, penginapan, dan lain-lain belum dihitung. Belum lagi kalau tiket kereta api tidak tersedia, tentu saya harus menginap dan itu menambah ongkos. Saya mencoba booking ke website KTM (Kereta Tanah Melayu), sekadar memeriksa ketersediaan tiket. Ternyata tidak ada tiket untuk tanggal yang saya maksud dan beberapa hari berikutnya. Kalaupun ada saya juga mustahil bisa membayar karena tidak punya kartu kredit.  
Sementara itu tiket Yogyakarta – Kuala Lumpur dengan Air Asia hanyalah Rp 477.103. Apa boleh buat. Saya ambil pilihan ini dengan pertimbangan keuangan dan mengabaikan saran teman saya agar tidak naik Air Asia karena hanya memperkaya orang Malayisa. Tak apalah, saya tidak punya persoalan dengan saudara serumpun kita itu. Untuk pulangnya, saya memilih penerbangan dari Kota Ho Chi Minh – Singapura seharga Rp578.619. Dari Singapura saya akan naik kapal cepat ke Batam. Dari Batam saya akan naik kapal cepat ke Tembilahan, lalu ke Jambi dan menempuh perjalanan darat dengan bus ke Jakarta. Setelah beberapa hari di Jakarta, saya berencana naik kereta api atau bus malam untuk pulang ke Yogyakarta. Ini pun tak sepenuhnya berhasil. Itu sebabnya saya paling malas booking penginapan secara online. Kapan tiba di tempat yang dimaksud saja tidak bisa dipastikan. Saya yakin saja pasti ada tempat beristirahat di tujuan nanti.
Akhirnya, saya kagum dengan para backpacker yang mencari tiket promo penerbangan jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan ada yang setahun sebelumnya sudah mendapat tiket untuk piknik. Teman saya, dengan kegigihan mencari tiket promo yang menakjubkan, mendapat tiket Yogyakarta – Kuala Lumpur pulang pergi hanya Rp300.000. Mendapatkan tiket murah saya berhasil (Yogyakarta – Kuala Lumpur), tetapi gagal total menyelesaikan pekerjaan yang saya perkirakan sudah selesai jauh sebelum hari keberangkatan. Netbook pinjaman adik ipar saya ternyata tidak kuat diajak bekerja maraton menyelesaikan terjemahan 500-an halaman pada waktunya. Saya putuskan tetap berangkat, setelah googling dan mendapat informasi bahwa di dekat KL Sentral ada warnet murah. Lagi pula, perjalanan ini saya yakini baik untuk orang seperti saya yang bekerja di rumah. Rabun dekat afektif bukan hal yang langka di kalangan pria berkeluarga.
Perjalanan darat dengan kereta api dan bus Kuala Lumpur Ho Chi Minh City
Pergilah jauh, pulang jika rindu

Dari rumah ke Bandara Adisutjipto saya diantar istri dan anak bungsu saya. Sebetulnya lebih mudah kalau saya diantar sampai Kentungan, lalu naik Trans Jogja jalur B3 jurusan bandara. Tetapi membayangkan anak bungsu saya bergembira melihat pesawat dari dekat adalah sesuatu yang membahagiakan. 

Traveling jalur darat Kuala Lumpur - Ho Chi Minh City
Jalan Solo dilihat dari udara

Catatan:
- Ternyata sudah tidak ada lagi biaya airport tax, katanya sudah dimasukkan dalam harga tiket.
- Ada layanan bus gratis dari terminal domestik ke terminal internasional di Bandara Adisutjipto.
- Rupanya parkir motor menginap berhari-hari sudah tidak diperbolehkan lagi di bandara ini.
- Gambar diambil dengan kamera hp Samsung, silakan dipakai bila mau.
- Catatan selanjutnya Semalam di Malaysia

Monday, November 2, 2015

Lebak Bulus Dalam Kenangan

Perjalanan jalur darat di Jawa
Perjalanan terakhir dari Lebak Bulus (2013)



Kadang-kadang, pulang adalah perjalanan yang paling berat.~ Kirsty Scott

Beberapa pekan lalu saya ke Galeria (Yogyakarta) di Jalan Solo. Setelah tidak menemukan apa yang saya cari, saya keluar dan menyeberangi Jalan Prof. Dr. Ir. Herman Yohanes untuk mengambil sepeda motor. Mematuhi ketentuan Perda yang terpampang: “Sepeda motor Rp1.000, Mobil Rp2.000”, saya membayar uang parkir Rp1.000. Dengan nada dingin dan muka belum mandi, tukang parkirnya berkata, “rong ewu” (dua ribu). Ya saya bayar saja. Bahwa Negara Republik Indonesia adalah negara berdasarkan hukum bukan berdasarkan kekuasaan (preman) itu kan kata konstitusi. Saya sudah malas ribut soal pelanggaran hukum terkait uang kecil. Jawaban “Cuma seribu, nggak bikin miskin” sudah sangat memuakkan bagi saya. (Memang cuma seribu, kali berapa coba?). “Perlawanan” terakhir saya dalam upaya ikut mengikis korupsi dari bawah berlangsung di terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Tempat yang saya benci tetapi harus saya datangi kalau ingin pulang ke Jawa bagian tengah (Yogyakarta, Kartasura, Parakan). Terminal itulah yang membuat perjalanan menjadi sangat berat sejak pintu masuknya.
Di atas loket karcis masuk terminal tertera bahwa menurut Peraturan Daerah retribusi masuk terminal adalah Rp200 (dua ratus rupiah), setiap kali membayar dengan uang seribu rupiah, kepada petugas di depan gardu pembayaran yang membiarkan posnya kosong, tak pernah ada kembalian. Suatu saat saya bertanya kepada petugas berseragam Dishub mana kembalian saya. Dia memberi kembalian 500 rupiah. Ketika saya desak lagi mana 300 rupiahnya, dia tidak peduli dan asyik mengobrol dengan para calo. Itulah, sejak dulu saya tidak pernah berminat dengan segala macam gerakan pemberantasan korupsi. Untuk urusan ini saya menganut paham “kalau rumput susah dihilangkan, belajarlah menerima keberadaannya.”
Lepas dari uji kesabaran di gardu retribusi, ujian lebih berat menunggu. Para calo yang mencarikan penumpang untuk perusahaan-perusahaan otobus. Saya tidak tahu apa manfaat orang-orang ini selain membikin repot calon penumpang, mengingat jarak antara gardu retribusi dan loket berbagai agen bus cuma beberapa langkah. Setiap kali dikerubuti para calo saya selalu bilang, “Ke Solo, naik Raya,” atau “Ke Temanggung, naik Safari Dharma Raya”. Tentu saja sebagian dari mereka akan mengikuti saya sampai ke loket yang saya maksud, baru menyerah ketika saya membayar tiket. Tetapi taktik menjawab seperti itu saya peroleh setelah melalui pengalaman-pengalaman getir berikut.
Ketika saya harus pulang mendadak saya terpaksa mencari bus seadanya. Bus Raya sudah berangkat semua. Seorang calo menghampiri dan bertanya mau ke mana. Saya bilang Solo. Dia menggiring saya ke loket suatu agen bus. Saya bilang kepadanya saya mau naik Safari (tanpa Dharma Raya, bus yang melayani trayek Jakarta – Solo ini berpangkalan di Salatiga, sedangkan Safari Dharma Raya kantor pusatnya di Temanggung, seberang Taman Kartini, Kowangan). Si calo bilang bus dia lebih bagus. Begitu keluar dari bilik loket, dia memberi saya tiket bus seharga Rp95.000. Bus Mandala. Saya marah. Itu bus yang gratis pun saya tidak sudi naik. Bus Jawa Timur kelas bumel ini menyedihkan reputasinya dalam hal ngetem berkepanjangan. Si calo berkata tak kalah galaknya, “Bapak bilang mau ke Solo, kan? Ini tiket ke Solo.” Belum sempat saya bilang tapi jangan bus kampret begini, dia sudah kabur ditelan kerumunan orang. Dengan marah saya datangi loket penjualan tiket itu (tentu saja nama biliknya bukan “Mandala”, mustahil. Aneh saja bus semacam itu bisa mendapatkan izin trayek sedemikian jauh. Bilik loket itu memajang nama-nama PO terkenal seperti Pahala Kencana, Rosalia Indah, Lorena dan sebangsanya). Saya bilang, “Ini nggak bener, dibayar pun saya nggak mau naik bus kayak gini. Nih makan duit ini.” Sistem transportasi kita memang cenderung menyusahkan orang yang bepergian. Setidak-tidaknya dulu, tak tahu sekarang.
Lain waktu saya diam saja ketika para calo menanyakan mau ke mana. Ngamuk mereka. Teriak-teriak, “Apa sih susahnya njawab ditanya begitu?” Entahlah, saya heran ke mana perginya bangsa yang konon ramah dan tidak suka menyusahkan orang lain yang saya baca dalam buku “Pancasila Cermin Hidupku” terbitan Sumber Kawruh, Klaten, semasa SD dahulu.
Tambah pengalaman, ketika ke Lebak Bulus lagi dan ditanya calo mau ke mana saya jawab, “Ke situ” sambil menunjuk loket agen bus yang saya maksud. Mereka panjang akal rupanya. Menggerutu keras-keras, “Iya tahu, maksud gw mau ke kota mana?”
Hebat memang terminal di negeri kita ini. Orang bepergian itu sudah susah, masih ditambah sulit dengan kelakuan para calo dan sebagainya itu (pengamen, penjual yang memaksa penumpang membeli dengan menaruh barang di pangkuan penumpang, kalau disingkirkan marah, kalau mengembalikan dagangan mereka tanpa ekspresi kena marah juga). Kabarnya Lebak Bulus belum apa-apa dibanding Pulo Gadung. Teman saya pernah memakai taktik menunjukkan tiket (bekas) agar tidak dikuntit calo. Dengan kewenangan melebihi polisi, para calo meminta teman saya menunjukkan tiket itu. Habislah teman saya itu diledek dan dimaki-maki para calo, lalu digelandang ke atas bus sesuai kemauan mereka dan teman saya itu harus membeli tiket bus tersebut.
Kembali ke Lebak Bulus, taktik menyebut nama bus juga tak sepenuhnya manjur. Suatu kali saya, istri, dan anak saya yang waktu itu masih bayi dihadang pada calo. Saya bilang sudah beli tiket bus Raya. Dua orang calo mengikuti kami hingga saya melapor ke agen. Tahu bahwa kami naik Eksekutif 28 (waktu itu itu harga tiketnya Rp125.000) mereka berteriak-teriak, “Yah, cuma patas, kirain VIP ....”.
Belum lagi kelakuan para portir yang memaksakan jasa mengangkut barang. Belum lagi kelakuan orang tak berseragam yang entah dari mana punya kewenangan menarik pungutan untuk taksi yang masuk ke halaman terminal. Dan situasi terminalnya sendiri, jangan bicara sama sekali soal kelayakan.
Mengapa terminal-terminanl bus di negeri ini dipenuhi orang-orang berhati jahat? Mengapa terminal kita lebih banyak berisi bukan orang-orang yang bepergian? Mengapa orang-orang yang bepergian (penggerak perekonomian berkat mobilitas mereka) harus disiksa dengan pengamen yang ngamuk-ngamuk jika tidak diberi? Mengapa kios-kios di terminal (Lebak Bulus, misalnya) tega mencekik pembeli dengan harga barang yang berkali-kali lipat harga di luar? Pertanyaan-pertanyaan ini tak pernah terjawab hingga Terminal Lebak Bulus ditutup.
Dengan kadar kebengisan lebih rendah, terminal-terminal lain yang pernah saya kunjungi kira-kira ya seperti itulah tidak nyamannya. Dan saya tidak terlalu peduli, karena sudah telanjur malas naik bus. Untunglah saya tinggal di Yogyakarta sekarang, jarang harus ke Jakarta. Pesawat dan kereta api jauh lebih beradab daripada bus yang mengharuskan orang berurusan dengan ketidaknyamanan terminal. Pengalaman pahit dengan terminal, yang tidak istimewa karena ratusan ribu orang lain pasti pernah mengalami, sebetulnya sudah nyaris tersisih dari benak sekiranya bukan karena jengkel dengan tukang parkir di awal tulisan ini dan kesedihan teramat mendalam karena kalimat ini: “Hitchhiking in Indonesia is usually very easy for foreigners (Bule) while it gets harder for locals, …. (Kutipan ini diambil dari http://hitchwiki.org/en/Indonesia)

Catatan:
Di Terminal Giwangan, Yogyakarta, retribusi beres saja, sesuai yang tercantum di pemberitahuan. Terminal Tirtonadi (Surakarta) hampir sebaik Giwangan, sesekali saja ada petugas yang berlagak lupa memberikan kembalian. Tidak ada pungutan apa pun di sub-terminal Jombor (entah sekarang), namun perilaku sopir taksi dan tukang ojeknya tidak menyenangkan dalam mencari penumpang. Ini fenomena lumrah sebetulnya, tetapi harga yang mereka tawarkan tidak masuk akal. Bagi yang belum pernah ke Yogya, mending naik Trans Jogja saja. Menjangkau hampir semua lokasi dalam kota di Yogyakarta dan sebagian Sleman, bahkan sampai ke Prambanan. Jika tujuan Anda tidak terjangkau bus murah dan menyenangkan ini (Rp3500, saya naik bus ini terakhir tanggal 25 Oktober 2015), keluar saja dari areal terminal, abaikan tawaran taksi gelap dan ojek, pilihlah taksi Jas atau Vetri (dibilang iklan ya biar, cuma dua ini yang pernah saya tumpangi :D), keduanya pakai argo. Kalau tak ada yang lewat, coba telepon saja ke (0274) 373737. Cuma nomor telepon Taksi Jas ini yang saya hafal karena setiap hari lihat.

Hal yang sama berlaku juga untuk Stasiun Tugu, Lempuyangan, dan Terminal Giwangan (di terminal ini pilihan bus kota lebih banyak). Bagi yang sudah lama meninggalkan Yogyakarta, tidak usah menunggu Jalur 7. Dan banyak jalur lain yang ditiadakan.

Jika Anda datang ke Yogyakarta melalui Maguwo (Bandara Adi Sutjipto), naik saja Trans Jogja, turun di Amplaz, pilih taksi argo yang banyak lalu lalang di Jalan Solo. Saran ini tidak berlaku bagi Anda yang tidak keberatan membayar Rp80.000 untuk ongkos yang sebetulnya cuma dua puluh lima ribuan dengan taksi argo.